Review dan Cara Setting Plugin CDN Statically

Content Delivery Network (CDN) adalah bagian penting dalam meningkatkan performa dan kecepatan website kita, dan Statically menyajikan semuanya secara gratis.

Apa itu CDN?

CDN adalah singkatan dari Content Delivery Network. Seperti namanya, CDN adalah jaringan server global yang berfungsi untuk mendistribusikan konten dari server ke suatu website sebelum diakses oleh pengunjung.

Jaringan CDN akan menyimpan file atau isi website dalam bentuk cache pada seluruh jaringan server yang dimilikinya, dan melakukan pengiriman konten dari server terdekat dari pengakses.

Manfaat CDN untuk Website:

  • Meningkatkan kecepatan website:
    Penggunaan CDN pada website kita dapat meningkatkan performa sekaligus kecepatan akses / load-time karena proses render dan pengiriman data berjalan lebih paralel.
  • Mengurangi beban server:
    Konten statis pada suatu website sering menyumbang lebih dari separuh bagian cache di server. Dengan menggunakan CDN, beban server untuk menyimpan cache ini berpindah ke CDN yang kita gunakan.
  • Menghemat bandwitdh.

Karena kemampuan-kemampuannya, CDN umumnya berbayar, dan seringnya tidak murah.

Tapi tidak dengan Statically.

Statically CDN

Statically adalah CDN multi-network dengan data center yang tersebar di seluruh dunia. Ditenagai oleh 4 jaringan CDN global sekaligus yang sudah sangat populer (CDN77, Cloudflare, Fastly, dan Bunny CDN), sehingga jumlah PoP (Point of Presence) yang tersedia untuk mengirim konten sangatlah banyak.

Statically dibangun oleh developer lokal Indonesia, Frans Allen, bersama timnya. They really did an amazing job to provide powerfull and free CDN for everyone.

Tidak hanya gratis, CDN Statically juga tidak memiliki batasan (unlimited). Tidak seperti CDN gratis pada umumnya yang sering memberikan batasan-batasan tertentu.

Sejak Statically menyediakan plugin untuk WordPress, pemakaiannya menjadi semakin mudah untuk pengguna CMS paling populer di dunia tersebut.

Fitur-fitur Utama Statically untuk WordPress (versi 0.6)

  1. CDN untuk semua local static files: font, gambar, css, js
  2. On the Fly Image Compression & Optimation: kompresi gambar secara otomatis
  3. Auto WebP Conversion: memuat gambar dalam format WebP ketika browser mendukung format tersebut
  4. CSS & JS Minifications: memuat semua css dan js dalam versi terkompresi secara otomatis
  5. F3H Ajax: fetch and load pages asynchronously using AJAX

Cara Setting Statically di WordPress

Statically CDN plugin untuk WordPress bisa kita install langsung dari menu add plugin di admin area atau diunduh di sini.

Setelah mengaktifkan plugin, di bagian bawah menu akan muncul tambahan menu untuk mengkonfigurasi Statically.

1. Generate API

Sebelum melakukan setting konfigurasi pada menu plugin, kita harus generate API Key terlebih dahulu untuk dapat menggunakan CDN Statically di website kita. Fungsinya adalah untuk whitelisting domain kita pada jaringan CDN Statically.

Untuk generate API Key bisa kita lakukan di sini atau dari link yang tersedia di general setting plugin CDN Statically.

2. General Settings

Ini yang akan kita temukan pada tab “General” dalam konfigurasi menu plugin Statically untuk WordPress:

  • Statically CDN URL:
    Otomatis akan terisi dengan url CDN Statically untuk domain kita.
  • Statically API Key:
    Isikan API Key yang sudah kita dapat sebelumnya.
  • Asset Inclusions:
    Secara default akan terisi wp-content, wp-includes.
  • Asset Exclusions:
    Secara default akan terisi .php.

Yang bisa kita coba lakukan di tab “General” ini:

  • Asset Inclusions:
    Asset inclusion ini pada intinya berfungsi untuk memilih folder aset yang akan kita ikutkan dalam CDN Statically.
    Biarkan sesuai default-nya bila kita ingin semua aset dimuat melalui CDN Statically.
    Hapus wp-includes bila kita berencana untuk membiarkan aset-aset seperti css dan js tidak kita ikutkan dalam CDN Statically.
  • Asset Exclusions:
    Plugin Statically untuk WordPress dapat secara otomatis memuat semua aset ke dalam CDN-nya, termasuk local font dan file-file PHP. Ini kenapa secara default akan terisi dengan .php karena file berformat ini memang sebaiknya tidak kita masukkan dalam CDN.
    Asset Exclusions ini pada intinya berfungsi untuk memilih ekstensi file yang kita tidak ingin untuk diikutkan dalam CDN statically. Tambahkan css dan js bila kita ingin tetap meminimalisir request, dan membiarkan css dan js yang termuat adalah versi yang sudah di-combine.

*Notes:
(1) Hingga versi 0.6 ini, plugin CDN Statically untuk WordPress belum bisa melakukan combine css dan js, serta secara default akan mengabaikan setting dari plugin-plugin yang melakukan combine css dan js yang kita gunakan. Hapus wp-includes bila kita ingin tetap meminimalisir jumlah request, terutama bila hosting yang kita gunakan sudah memiliki performa yang baik.
(2) Fitur combine css dan js sudah ada dalam roadmap sang founder.

3. Speed Settings

Ini yang akan kita temukan pada tab “Speed” dalam konfigurasi menu plugin Statically untuk WordPress:

  • WordPress Core Assets:
    Otomatis akan tercentang secara default. Ini membuat semua core assets bawaan WordPress akan dimuat melaui CDN Statically.
  • CSS & JS Minifications:
    Otomatis akan tercentang secara default, dan tidak bisa kita lepas centangnya.
  • Image Optimization:
    Fitur menarik yang sebenarnya cukup mahal; On the fly image compression. Kita bisa secara otomatis mengkompresi gambar yang akan dimuat oleh browser melalui CDN Statically. Otomatis akan tercentang secara default, dan tidak bisa kita lepas centangnya.
  • Image Quality:
    Untuk setting kualitas kompresi gambar yang dioptimasi. Bila tidak kita isi, secara default kualitasnya adalah 85% dari file asli.
  • Image Resize:
    Untuk secara otomatis resize semua gambar.
  • Auto WebP:
    Untuk secara otomatis memuat semua gambar dalam format WebP bila browser mendukung format tersebut.

Yang bisa kita coba lakukan di tab “Speed” ini:

  • WordPress Core Assets:
    Biarkan centangnya bila kita ingin memuat semua css dan js melalui CDN Statically. Lepas centangnya bila ingin tetap meminimalisir request dan membiarkan css dan js ter-combine.
  • Image Quality:
    Sebisa mungkin perkecil ukuran gambar yang yang akan dimuat. ThinkDigital selalu set image quality untuk on the fly image compression tidak lebih dari 50%. Sesuaikan dengan kebutuhan kita. Ingat, mayoritas pengunjung berasal dari mobile browser. Kecuali bila website kita adalah website fotografi, memaksa browser untuk memuat gambar dengan resolusi yang sesungguhnya tidak diperlukan adalah hal yang sangat mubazir.
  • Image Resize:
    Isikan sesuai dengan kebutuhan. Kita juga bisa memilih untuk membiarkannya kosong.
  • Auto WebP:
    Centang ini bila kita ingin secara otomatis memuat gambar dalam format WebP bila browser mendukung.

4. Caching Settings

Sementara ini fitur caching masih berstatus ‘coming-soon‘ di plugin CDN Statically untuk WordPress (versi 0.6)
*it would be awesome once it has been published

5. Extra Settings

Ini yang akan kita temukan pada tab “Extra” dalam konfigurasi menu plugin Statically untuk WordPress:

  • Emoji CDN:
    Otomatis akan tercentang secara default. Ini membuat emoji bawaan WordPress akan dimuat melaui CDN Statically.
  • Favicon:
    Untuk mengaktifkan favicon dengan favicon autogenerated dari Statically.
  • Open Graph Image:
    Fitur ini berguna untuk secara otomatis memberikan Open Graph Image bila featured image tidak tersedia.
  • Enable on WP-Admin:
    Untuk membuat semua aset dalam wp-admin termuat melalui CDN Statically.
  • Relative Path:
    Untuk memungkinkan CDN Statically memuat file-file berdasarkan relative path.
  • CDN HTTPS:
    Untuk memungkinkan CDN Statically berjalan pada koneksi SSL / HTTPS.
  • Remove Query Strings:
    Untuk membuat CDN Statically mengabaikan query strings pada url aset.
  • Developer Mode:
    Untuk menambahkan fitur Developer Mode pada tab selanjutnya (Labs).

Yang bisa kita coba lakukan di tab “Extra” ini:

  • Emoji CDN:
    Biarkan centangnya bila memang masih mengaktifkan emoji dalam WordPress kita. Lepas centangnya bila kita sudah non-aktifkan emoji dalam WordPress kita.
  • Favicon:
    Biarkan centangnya bila kita belum membuat favicon sendiri untuk website kita. Lepas centangnya bila kita sudah memiliki favicon sendiri untuk website kita.
  • Open Graph Image:
    Open Graph Image berguna saat kita share postingan kita ke social media seperti Facebook dan Twitter. Biarkan centangnya bila kita belum mengisi featured image dan mengatur meta property og:image untuk seluruh postingan yang ada di website kita. Lepas centangnya bila kita sudah mengatur featured image di semua postingan yang ada di website kita.
  • Enable on WP-Admin:
    Ini tidak perlu diaktifkan. Biarkan kosong (off) sesuai default.
  • Relative Path:
    Biarkan tercentang sesuai default.
  • CDN HTTPS:
    Biarkan tercentang sesuai default.
  • Remove Query Strings:
    Query strings seperti namadomain.com/namafile.css?ver=1.0 dan namadomain.com/namafile.js?ver=1.0 dapat membuat proses render browser berjalan sedikit lebih lambat. Biarkan centangnya bila kita belum mengatur ini melalui manual script atau plugin lain. Lepas centangnya bila kita sudah mengatur ini melalui manual script atau plugin lain.
  • Developer Mode:
    Biarkan kosong sesuai default bila kita tidak ingin mengaktifkan F3H Ajax di tab selanjutnya (Labs). Aktifkan (beri centang) bila kita ingin ‘bermain-main’ dan mengaktifkan F3H Ajax yang tersedia di tab Labs.

6. Labs Settings

Salah satu core project team member dari Statically CDN adalah Taufik Nurrohman. Ia membangun F3H Ajax, salah satu fitur menarik yang bisa meningkatkan user experience dalam hal kecepatan akses website kita. Fitur F3H Ajax ini bisa dengan mudah kita implementasikan ke website-website berbasis WordPress karena sudah di-embed ke dalam fitur plugin CDN Statically.

..still on progress..

Cara Optimasi Mempercepat Loading Website Berbasis WordPress

Load time WordPress lambat? Skor di GTmetrix merah? Page speed di Google Page Insight rendah? Pingdom Test hasilnya slow? Skor di Webpagetest juga rendah? Lihat solusinya di sini.

Platform WordPress dibangun dengan bahasa pemrograman PHP, yang secara default memang akan mememerlukan waktu render yang lebih lama dibandingkan file HTML statis.

Setiap halaman situs web berbasis WordPress bersifat dinamis; dihasilkan dari informasi yang disimpan dalam database dan/atau file eksternal. Jadi memang secara default, akan membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk memuat halaman dibandingkan dengan situs web yang dibangun sepenuhnya menggunakan HTML.

Yang perlu dipahami, WordPress pada dasarnya memang dirancang untuk membuat proses membangun website menjadi mudah untuk segala kalangan. Sehingga banyak hal yang dikemas menjadi satu paket agar dapat memenuhi kebutuhan berbagai kalangan tersebut.

Akibatnya, banyak hal yang mungkin sebenarnya tidak sepenuhnya kita butuhkan. Belum lagi kalau kita menggunakan theme dan plugin-plugin yang tidak ‘beautifuly coded‘. Yang sering terjadi, situs WordPress kita akan menjadi semakin bloated.

Penyebab Situs Web Berbasis WordPress Memiliki Load Time Yang Lambat

Bloated. Itu adalah alasan utama yang membuat website-website berbasis WordPress menjadi lambat. Bloated dalam lingkup website memiliki arti: banyak hal yang digunakan yang sebenarnya tidak diperlukan. Ini mencakup semua file yang ada dalam website kita seperti plugin, php code, font, css, javascript, images, dan bahkan database.

Beberapa hal yang sering membuat website berbasis WordPress menjadi lambat:

  • Terlalu Banyak Plugin
    Setiap plugin akan menambah file CSS dan javacript yang perlu di-render. Tidak hanya memperbanyak dan memperbesar jumlah file yang harus dimuat oleh browser, menggunakan banyak plugin membuka resiko keamanan pada website kita. Belum lagi, banyak plugin yang (sayangnya) tidak membersihkan dirinya sendiri dari database walaupun sudah kita uninstall dengan cara yang benar. Sisa database yang tertinggal ini mengakibatkan besar file database menjadi lebih besar dari yang seharusnya dan proses render menjadi lebih lambat.
  • PHP Code yang Tidak Rapi dan Ramping
    Banyak theme yang (sayangnya) tidak ditulis dengan rapi dan ramping PHP Code-nya. Penggunaan theme dengan PHP Code yang tidak rapi tentu akan membuat proses render lebih lambat dari pada menggunakan theme dengan PHP Code yang beutifuly coded (rapi, ramping, dan sebisa mungkin minimalis).
  • Terlalu Banyak Font
    Ukuran file dari font umumnya besar (bahkan yang sudah berformat woff/woff2). Bila menggunakan font terlalu banyak, semakin besar pula ukuran halaman yang harus dimuat oleh browser. Ini juga termasuk font-font untuk icon.
  • Terlalu Banyak CSS dan Javascript
    Selain bersifat render-blocking, terlalu banyak file CSS dan Javascript yang sebenarnya tidak diperlukan akan memperlambat proses render website kita. Belum lagi jika banyak class dan style dari CSS tersebut bersifat override, ini akan membuat browser harus membaca 2x atau lebih. Penggunaan terlalu banyak plugin akan turut memperbanyak jumlah file CSS dan Javascript yang harus di-render oleh browser.
  • Image Yang Tidak Dikompress dan Dioptimasi
    Gambar yang terlalu banyak, apalagi bila ukurannya terlalu besar, tentu akan memperlambat proses browser dalam me-render halaman. Pertanyaannya, seberapa pentingkah kita memuat file gambar yang berukuran besar dengan resolusi tinggi?
  • Database Yang Terlalu Besar
    Setiap halaman situs web berbasis WordPress utamanya dihasilkan dari proses render PHP dan informasi-informasi yang tersimpan dalam database. Bila ukuran database terlalu besar, terutama yang berstatus autoload di wp_options, akan memperlambat proses render dari browser. Banyak plugin yang menyimpan data di database. Semakin banyak plugin yang digunakan, semakin besar ukuran database dari WordPress kita.
  • Penggunaan Versi PHP Yang Outdated
    PHP adalah bahasa pemrograman yang diproses oleh server (server-side) dan didesain untuk pembuatan website (atau aplikasi apapun yang berbasis web). Semakin baru versinya, kinerja dan performanya semakin baik. Versi PHP terbaru adalah PHP 7, atau lebih tepatnya, PHP 7.4. Penggunaan versi PHP yang sudah outdated (sebelum versi 7), akan membuat proses render menjadi lambat.
  • Hosting Yang Buruk
    Performa hosting memiliki peranan yang besar terhadap performa dan kecepatan loading website. Penggunaan Hosting yang buruk akan mengakibatkan slow response time yang akhirnya akan berdampak pada kecepatan TTFB (Time to First Byte) dan proses render halaman secara keseluruhan. Bila semua poin sebelum ini tidak ada masalah dan tidak menjadi penyebab load time website kita lambat, berarti sudah waktunya kita pindah ke penyedia jasa Hosting baru.

Mengapa Kecepatan Load Time Situs Web Penting?

Kecuali bila merek kita sudah terkenal, kecepatan akses dan load time situs web adalah hal yang penting karena:

  • Kecepatan Load Time Situs Web yang Lambat Bisa Membuat Pengunjung Pergi
    Hal ini tentu sudah sering kita alami sendiri. Ketika membuka website yang load time nya lambat atau bahkan tidak kunjung terbuka, kita sendiri pasti akan enggan untuk mengunjunginya lagi.
  • Performa dan Kecepatan website mempengaruhi Rangking Factor di Google, Bing, dan Yahoo
    Website yang lambat diakses akan membuat pengunjung akan malas menunggu, dan bahkan segera menutup browsernya sebelum browser benar-benar selesai memuat halaman. Hal ini akan meningkatkan rasio bounce rate kita. Akibatnya, mesin-mesin pencari akan menganggap situs kita buruk. Mayoritas search engine menerapkan ini dalam algoritmanya.

Ingat, yang benar-benar penting adalah kecepatan load time website kita secara aktual. Bukan sekedar skor-skor di website-website penghitung skor seperti yang tersebut di atas.

Kita harus peduli dengan ini. Kecepatan load time halaman web bisa mempengaruhi banyak hal, mulai dari traffic website, rasio bounce rate, hingga konversi.

Jika itu adalah website blog, kita ingin pengunjung bisa cepat mengakses blog kita dan membaca artikel yang membuat dia tertarik. Jika itu adalah website company profile, kita ingin pengunjung bisa dengan cepat melihat dan mempelajari profil usaha kita. Jika itu adalah website online shop, kita ingin pengunjung bisa cepat membuka situs kita, mengeksplorasi, dan membeli barang-barang yang kita jual.

Cara Optimasi dan Mempercepat Loading WordPress

Beragam cara bisa kita lakukan untuk mempercepat loading time WordPress.

Kuncinya adalah memperkecil ukuran halaman website kita dan mengurangi jumlah file yang harus dimuat seminimal mungkin.

Langkah-langkah sederhana untuk mempercepat loading website berbasis WordPress:

  1. Analisa website kita.
    • Identifikasi masalah-masalah yang membuat situs kita menjadi lambat. Kemungkinannya bisa dari plugin atau manual script yang tidak ditulis atau ditaruh di tempat yang benar.
    • Periksa file-file apa saja yang dimuat oleh situs kita. Kurangi dan perkecil (minimize) ukuran file-nya.
    • Manfaatkan tools-tools penghitung skor di atas. Ikuti saran-saran yang diberikan.
  2. Aktifkan Cache

    Manfaatkan plugin cache. Tidak harus yang berbayar. Beberapa plugin cache yang ThinkDigital rekomendasikan adalah:

    Mengaktifkan cache sangat penting agar browser tidak perlu merender ulang semua file setiap kali ia membuka halaman baru.

  3. Aktifkan Gzip Compression

    Gzip Compression adalah metode kompresi file via server-side. Dan merupakan salah satu langkah optimasi termudah karena ia dapat mengkompress (memperkecil) ukuran file HTML, CSS, dan Java Script, dengan hanya menambahkan beberapa baris kode di file .htaccess.

    Kita bisa menambahkan baris kode tersebut sendiri atau menggunakan plugin. Beberapa plugin cache yang disebutkan di atas juga dapat menambahkan beberapa baris kode tersebut di .htaccess dan mengaktifkan Gzip tanpa kita perlu membuka Control Panel Hosting kita dan menambahkan sendiri.

  4. Kompress (minify) dan Satukan (combine) CSS dan Java Script

    Sebisa mungkin, kompres dan satukan semua file CSS dan JS yang dimuat oleh website. Ini bisa mempercepat proses render dari halaman website kita. Terutama bila performa hosting kita kurang baik. Manfaatkan plugin bila perlu. Tidak harus yang berbayar.

    Beberapa plugin cache yang disebutkan di atas juga memiliki fasilitas compress dan minify CSS dan Java Script.

    Tips: Jangan satukan file CSS dan JS yang tidak diperlukan di semua halaman. Rata-rata plugin yang disebut di atas memiliki fitur exclude files ini. Ini akan membuat CSS dan JS yang sebenarnya hanya kita perlukan di halaman yang tertentu saja hanya termuat di halaman-halaman tersebut saja dan tidak ikut tersatukan menjadi satu file CSS dan JS yang sangat besar. Hasilnya, secara keseluruhan website kita akan jadi lebih ringan dan cepat karena ukuran file CSS dan JS utama lebih kecil.

  5. Taruh file-file yang bersifat render-blocking di bagian Footer

    Ingat, semua file yang dimuat oleh suatu halaman, baik dari internal maupun eksternal, sifatnya render-blocking. Ini termasuk CSS dan Java Script. Letakkan Java Script di bagian akhir (Footer) agar tidak menunda proses browser merender situs.

  6. Tunda Load Gambar

    Tunda load gambar, terutama yang posisinya tidak berada di bagian atas halaman. Bila tidak memahami coding, kita bisa memanfaatkan plugin lazy-load. Sekali lagi, tidak harus yang berbayar.

    Beberapa plugin cache yang disebutkan di atas juga memiliki fasilitas lazy-load untuk gambar.

  7. Kompress dan Perkecil Ukuran Gambar

    Kecilkan ukuran file gambar sebelum upload. Kecuali bila website kita adalah website fotografi, kita tidak perlu menampilkan gambar ber-resolusi tinggi.

    Ingat, mayoritas saat ini nyaris semua mengakses website menggunakan perangkat mobile. Memaksa browser untuk memuat gambar dengan resolusi yang sesungguhnya tidak diperlukan adalah hal yang sangat mubazir.

  8. Optimasi Font

    Semua font bisa dan harus dioptimasi, termasuk google font dan icon font yang seringnya memberatkan.

  9. Gunakan CDN

    Sebisa mungkin, gunakan CDN (Content Delivery Network) untuk sebanyak mungkin file yang bersifat statis. Tujuannya agar proses render dan pengiriman data berjalan lebih paralel serta load server berkurang.

    Yang harus diwaspadai, penggunaan external resource akan menambah jumlah DNS Look-up yang ujungnya akan menambah latency. Sebaiknya, gunakan maksimal 2 source CDN saja untuk meminimalkan jumlah DNS Look-up.

  10. Optimasi Database

    Untuk melakukan ini, kita bisa langsung menggunakan fitur repair dan optimized database dari phpmyadmin yang ada di Control Panel Hosting kita. Bila tidak ingin ber-resiko, kita bisa menggunakan plugin-plugin seperti WP-Optimize dan WP-Sweep.

  11. Gunakan Versi PHP Terbaru

    Kita bisa memeriksa ini melalui Control Panel Hosting. Pastikan website kita sudah menggunakan PHP versi 7.2 ke atas. Bila belum, kita bisa mengubahnya sendiri dengan mudah atau minta bantuan ke penyedia jasa Hosting yang kita gunakan.

Ingat, sebelum melakukan cara-cara mempercepat WordPress di atas, kita wajib melakukan backup atas website kita terlebih dahulu agar aman dari resiko kesalahan yang mungkin terjadi saat melakukan langkah-langkah di atas.

Bila semua langkah optimasi di atas sudah dilakukan dan load time website lambat, berarti sudah saatnya bagi kita untuk mempertimbangkan pindah ke hosting yang baru.

Good Luck!

Resume

Cara Mempercepat Loading Speed WordPress

Analisa website dan identifikasi masalah.
Periksa file-file apa saja yang dimuat oleh situs kita. Kurangi dan perkecil (minimize) ukuran file-nya.
Optimasi seluruh Font, CSS, Java Script, dan gambar.
Aktifkan Cache, agar browser tidak perlu merender ulang semua file setiap kali ia membuka halaman baru.
Aktifkan Gzip Compression untuk mengkompres file secara otomatis via server-side.
Sebisa mungkin, kompres dan satukan semua file CSS dan JS yang dimuat oleh website.
Kompress dan perkecil ukuran gambar untuk memperkecil besar file yang harus dimuat oleh browser.
Tunda load Gambar dengan lazy-load.
Gunakan CDN untuk sebanyak mungkin file yang bersifat statis, agar proses render berjalan lebih paralel dan load server berkurang.
Optimasi database secara rutin, agar database tidak terus membesar dengan data yang tidak kita perlukan.
Gunakan versi PHP terbaru yang compatible dengan theme dan plugin kita. Sebisa mungkin gunakan minimal versi 7.2 ke atas.

Tips Tambahan:

  • Selalu update plugin dan theme ke versi terbaru.
  • Hapus dan hindari penggunaan plugin yang tidak perlu.
  • Pelajari penggunaan Prefetch dan Preload.
  • Gunakan theme dan plugin yang ringan.
  • Hindari Page Builder.

WordPress

WordPress adalah CMS (Content Management System) yang sangat populer untuk membangun website. Tingkat popularitasnya hanya bisa ditandingi oleh Blogspot yang dibuat oleh google.

Karena sifatnya yang Open Source, fitur-fitur wordpress berkembang dengan sangat cepat. Dari yang awalnya hanya digunakan untuk blogging, kini WordPress bisa digunakan untuk membangun beragam jenis website seperti company profile, toko online, directory listing, e-learning, dan masih banyak lagi.

Sejarah WordPress

Sejarah WordPress berawal dari keinginan Matt Mullenweg membuat publishing platform yang memiliki struktur yang baik dan dibangun di atas PHP dan MySQL, serta yang penting bersifat open source demi menjaga kontinuitasnya.

Matt, yang biasa menulis blog di b2/cafelog terkejut dengan dihentikannya pengoperasian publishing platform yang paling populer pada masanya tersebut. Ia memutuskan untuk membuat publishing platform sendiri.

Dan keinginan Matt disambut oleh Mike Little, salah satu developer dari b2/cafelog.

Dan keduanya kemudian memulai sejarah. Christine Tremoulet yang mencetuskan nama WordPress sebagai merek. Di sekitar bulan Mei tahun 2003, mereka resmi meluncurkan WordPress.org.

Keputusan membuat sistem tersebut bersifat open source dan berada di bawah naungan lisensi GPL (General Public License) mungkin adalah keputusan terbaik yang dilakukan oleh para pendiri WordPress.

Dengan lisensi ini, setiap pengguna WordPress memiliki:

  • Kebebasan untuk menjalankan program untuk tujuan apa pun.
  • Kebebasan untuk mempelajari cara kerja program, dan mengubahnya untuk melakukan apa yang kita inginkan.
  • Kebebasan untuk mendistribusikan kembali.
  • Kebebasan untuk memodifikasi, dan mempublikasikannya.

Hal ini lah yang membuat WordPress berkembang dengan sangat cepat dan menjadi publishing platform yang paling populer di dunia, saat ini. Tanpa itu, mungkin WordPress tidak bisa seperti sekarang.

Kelebihan WordPress

Karena sifatnya yang open source, banyak developer yang menggunakan dan mengutak-atik script untuk menambah fungsi pada WordPress sesuai kebutuhannya sendiri.

Sejak tahun 2004, WordPress versi 1.2 diluncurkan dengan memasukkan plugin architecture untuk mempermudah para developer menyematkan script-script tambahannya. Sejak ini, perkembangan WordPress makin masif. Ini memungkinkan pengguna untuk memperluas fungsionalitas WordPress dengan menulis plugin mereka sendiri, dan membaginya. Banyak developer yang kemudian membuat add-on berupa plugin untuk disematkan dan menambah fungsi pada WordPress.

Dari data yang ada di Wikipedia, per Januari 2020, WordPress.org memiliki total 55.487 plugin yang tersedia. Masing-masing menawarkan fungsi dan fitur khusus yang memungkinkan pengguna untuk mengkustomisasi website dengan kebutuhan spesifik mereka masing-masing. Ini belum termasuk plugin premium (berbayar) yang juga sangat banyak tersedia dan tidak tercantum dalam repositori WordPress.org.

Theme dan Plugin WordPress

Theme dan plugin WordPress dapat dengan mudah kita temukan dan unduh di WordPress.org. Per tanggal 28 Maret 2020, tercatat ada 3.933 theme dan 55.748 plugin yang terdapat di repositori WordPress.org.

Sekali lagi, ini belum termasuk theme dan plugin premium (berbayar) yang jumlahnya juga sudah mencapai ribuan.

Ini memudahkan kita untuk membuat website untuk berbagai jenis. Mulai dari untuk kebutuhan personal dan bisnis, dari sekedar blog, toko online, hingga website sekolah atau pemerintahan, nyaris semuanya sudah tersedia dengan berbagai macam pilihan.

Membuat Website Menggunakan WordPress

Kita mempuanyai banyak pilihan untuk membuat website menggunakan WordPress. Mulai dari menggunakan theme dan plugin yang gratis, maupun theme dan plugin berbayar. Semua tergantung dari kebutuhan.

Untuk yang masih awam, biasanya memilih menggunakan plugin page builder. Beberapa page builder WordPress yang populer, diantaranya adalah:

  • Elementor
  • Beaver Builder
  • Brizy
  • Divi
  • Visual Composer
  • Oxygen
  • dsb.

Plugin-plugin page builder ini muncul karena sebelum WordPress meluncurkan Gutenberg (block editor) yang diluncurkan berbarengan dengan WordPress versi 5.0 dan theme Twenty Nineteen pada tahun 2018 yang lalu, WordPress Editor masih berupa editor untuk menulis blog atau artikel.

Membuat Website Sendiri Menggunakan WordPress

Beberapa tahun terakhir ini, membuat website sendiri menggunakan WordPress terhitung sangat mudah. Walaupun tidak bisa coding, kita bisa menggunakan theme-theme dan plugin-plugin gratis yang banyak tersedia di repositori WordPress, atau langsung membeli theme dan plugin premium (berbayar) yang banyak tersedia di internet.

Membeli theme dan plugin premium di tempat-tempat seperti themeforest milik Envato sudah sangat mudah dilakukan dengan adanya Jenius.

Bila kita memiliki waktu lebih untuk belajar, tanpa theme dan plugin berbayar pun sudah lebih dari cukup untuk memenuhi banyak kebutuhan. Block Editor native dari WordPress, ditambah dengan plugin-plugin block untuk Gutenberg yang banyak tersedia secara gratis juga, sudah cukup mumpuni untuk membuat berbagai macam desain website yang kita butuhkan.

Kita hanya perlu meluangkan sedikit waktu untuk mencari di internet contoh-contoh dan tutorial yang banyak tersedia. Belajar sedikit CSS dan PHP sangat tidak sulit, dan akan sangat membantu. Kita hanya perlu sedikit menguasai bahasa inggris saja untuk mempelajarinya.

Membuat Website WordPress Menggunakan Jasa

Bila kita tidak memiliki waktu untuk membuat website sendiri menggunakan WordPress, kita bisa dengan mudah menemukan jasa-jasa pembuatan website berbasis WordPress di internet. Pilih yang memang professional dalam bidangnya dan memiliki portofolio yang jelas seperti narwastunagoro.com, terutama bila itu memang untuk website yang penting seperti website bisnis, pendididikan, dan pemerintahan.

Dengan menggunakan jasa pembuatan website untuk membuat website, kita tidak perlu mengeluarkan waktu khusus untuk belajar segala pernak-pernik yang diperlukan untuk membuat website, dan bisa fokus tetap menjalankan bisnis atau pekerjaan utama kita.

..still on progress..

Tips Membeli Hosting: Pilih Murah atau Cepat?

Pilih hosting yang murah atau yang cepat? Tidak ada jawaban yang baku untuk menjawab pertanyaan ini. Semua tergantung pada kebutuhan website kita sendiri.

Jenis Website Mempengaruhi Keperluan Anggaran

Kalau website kita lebih banyak bersifat statis seperti company profile dan portofolio, tidak perlu memilih hosting yang mahal dengan spesifikasi yang tinggi. Biaya yang kita keluarkan tidak akan setimpal dengan keperluan dan tujuan kita membuat website.

Kalau website kita bersifat dinamis dan interaktif serta memiliki traffic yang cukup besar, memilih hosting yang cepat sepertinya adalah pilihan terbaik.

Website yang dinamis memerlukan kapasitas yang cukup besar karena jumlah data dan file yang terus bertambah. Sedangkan website interaktif memerlukan kapasitas Bandwidth, RAM, I/O, IOPS, Entry Process, yang tinggi.

Bila dikelompokkan secara sederhana, pembagiannya adalah seperti ini:

  • Website Statis (Company Profile dan Portofolio)
    1. Harga Hosting: Sangat bisa murah
    2. Spesifikasi yang diperlukan: Standar
  • Website Dinamis dan Interaktif (E-Commerce, Blog, Situs Berita, dsb)
    1. Harga Hosting: Umumnya tinggi
    2. Spesifikasi yang diperlukan: Kapasitas penyimpanan, Bandwidth, RAM, I/O, dan IOPS yang tinggi.

Ingat, cepat tidak selalu mahal. Performa setiap hosting sangat tergantung dari kebijakan masing-masing penyedia hosting dalam meramu produk, dan terutama, racikan sang admin server. Penjelasan lebih lanjut tentang ini bisa ditemukan di bawah.

Pengetahuan Dasar Tentang Hosting yang Harus Kita Kuasai

Sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya kita memahami penjelasan istilah dan spesifikasi hosting ini terlebih dahulu:

  1. Jenis Hosting
    • Shared Hosting
      Ini adalah layanan hosting yang paling basic sekaligus paling populer karena harganya paling terjangkau. Seperti namanya, dalam shared-hosting,
      penyedia hosting membagi-bagi resource dari 1 server dan mengalokasikannya ke banyak klien, sehingga kita akan berbagi resource dalam 1 server dengan banyak pengguna lain. Karena sifatnya berbagi, layanan shared-hosting adalah layanan hosting yang paling murah.
    • Dedicated Hosting
      Ini adalah kebalikan dari shared-hosting. Dalam dedicated hosting, kita tidak akan berbagi resource dengan banyak pengguna lain. Baik CPU Core, RAM, dan spesifikasi lain yang tertera, semuanya dedicated untuk 1 akun hosting.
    • VPS Hosting
      VPS adalah kependekan dari Virtual Private Server. Dalam VPS, kita akan diberi akses ke virtual server. Sehingga kita seakan-akan memiliki server khusus sendiri. Semua resource, baik CPU Core, Ram, dan space, adalah untuk kita sendiri.
      Layanan VPS terbagi jadi 2, Managed VPS dan Unmanaged VPS. Dalam Managed VPS, semua konfigurasi dan bahkan maintenance dilakukan oleh pihak penyedia hosting, seperti layaknya shared dan dedicated hosting. Sedangkan untuk Unmanaged VPS, berarti kita mengkonfigurasi sendiri mulai dari sistem operasi, security software, dan semua kebutuhan lainnya.
    • Cloud Hosting
      Teknologi Cloud Hosting adalah pembaharuan dari teknologi web hosting konvesional. Cloud Hosting adalah hosting virtual yang menggunakan banyak server yang saling terhubung dan bekerja layaknya 1 server yang utuh. Keunggulan dari teknologi ini adalah performa yang lebih terjaga.

      Dengan banyaknya server yang digunakan, uptime dan downtime lebih bisa dikelola karena masing-masing server akan saling berbagi beban kerja. Ketika ada salah satu server yang bermasalah, server yang lain dapat mengambil alih tugas. Ini yang membuat uptime dari cloud hosting umumnya lebih tinggi dari hosting konvensional.
  2. Jenis Media Penyimpanan (Storage)
    • HDD
      HDD adalah jenis media penyimpanan tradisional yang masih menggunakan piringan untuk menyimpan data.
    • SSD
      SSD adalah media penyimpanan yang populer saat ini. SSD menyimpan data dalam chip, dan memiliki kecepatan baca dan tulis jauh lebih cepat dari HDD. Mayoritas penyedia hosting saat ini sudah menggunakan SSD untuk media penyimpanan hostingnya. 
  3. Kapasitas Penyimpanan
    • Unlimited
      Sejak 1 tahun terakhir ini, banyak penyedia hosting (terutama yang terhitung masih baru) menawarkan unlimited storage untuk paket hostingnya. Kompensasinya, limitasinya dipindahkan ke spesifikasi lain. Salah satunya adalah inodes.
    • Limited
      Umumnya, penyedia hosting yang reliable tetap memberikan limitasi kapasitas dalam setiap paket hostingnya. Mereka memilih untuk tidak membatasi spek-sepek wajib di balik layar untuk menjaga performa hostingnya, dan tetap memberikan limitasi bertingkat untuk kapasitas hostingnya. 
  4. Jenis Web Server
  5. Jenis Database
    Datebase server yang umumnya digunakan adalah MySQL dan MariaDB.
    Baik MySQL dan MariaDB, keduanya sama-sama merupakan sistem manajemen basis data berbasis relasi (Relational Database Management System – RDBMS ) dan menggunakan tabel, batasan (constraints), pemicu (triggers), peran (roles), prosedur tersimpan (stored procedures), dan tampilan (views) sebagai komponen inti yang digunakan.
    Masing-masing tabel terdiri dari kumpulan baris, dan setiap baris berisi kumpulan kolom yang sama, serta menggunakan primary keys untuk mengidentifikasi setiap baris data dalam sebuah tabel, dan foreign keys untuk memastikan integritas referensial antara dua tabel yang terkait.
    MariaDB sebenarnya adalah ‘turunan’ dari MySQL, sehingga struktur basis data dan indeks yang digunakan di MariaDB sama dengan yang digunakan oleh MySQL. Ini membuat kita tidak perlu khawatir, hosting yang kita pilih mendukung keduanya atau hanya salah satu, karena sistem dan struktur data yang sama.
    • MySQL
      Dibangun oleh
      Michael Monty. Awalnya hanya untuk pemakaian pribadi, hingga akhirnya berkembang menjadi software opensouce yang sangat populer. Dalam perkembangannya, MySQL diakuisisi oleh Sun Microsystems pada tahun 2008, dan kemudian menjadi milik Oracle sejak Oracle mengakuisisi Sun Microsystems pada tahun 2009.
    • MariaDB
      Juga dibangun oleh Michael Monty, di tahun yang sama dengan saat Oracle mengakuisisi Sun Microsystems. Banyak penambahan fitur dan peningkatan performa yang dilakukan oleh Michael Monty pada MariaDB. Dari hasil banyak benchmark, MariaDB terbukti memiliki kinerja yang lebih hemat resource namun dengan kecepatan yang lebih unggul dari MySQL.
  6. PHP Support
    PHP adalah bahasa pemrograman yang diproses oleh server (server-side) dan didesain untuk pembuatan website (atau aplikasi apapun yang berbasis web). Tidak semua website dibuat menggunakan PHP. Menggunakan murni HTML pun bisa. Namun, bila website kita menggunakan wordpress, PHP support menjadi hal yang wajib.
    Versi PHP terbaru adalah PHP 7, atau lebih tepatnya, PHP 7.4. Semakin baru versinya, kinerja dan performanya semakin baik. Mayoritas penyedia hosting di Indonesia saat ini, hingga tulisan ini ditulis, baru support hingga versi PHP 7.3, karena memang PHP 7.4 baru saja dirilis pertengahan Desember kemarin (2019).
  7. CPU Core
    Seberapa banyak processor yang tersedia dan dialokasikan dalam suatu paket hosting. Processor berfungsi untuk mengatur semua instruksi dari software ke dalam server. Ia bertugas untuk mengatur jalannya semua program dan aktifitas di dalam server.
    Semakin besar angka CPU Core, di atas kertas akan membuat performa hosting semakin baik.
  8. RAM
    RAM adalah singkatan dari Random Access Memory. Sebelum menyampaikan instruksinya kepada software, CPU/processor akan terlebih dulu menyimpan data ke dalam RAM. RAM bertanggung jawab untuk menyimpan dan menyediakan, untuk sementara, semua data yang diperlukan untuk menjalankan program atau aplikasi.
    Sama seperti CPU Core, semakin besar angka RAM yang disediakan, di atas kertas akan membuat performa hosting semakin baik.
  9. Bandwidth
    Kapasitas (kecepatan dan jumlah) konsumsi/transfer data antara server hosting > situs web > pc/laptop/hp yang terhubung (mengaksesnya) dalam waktu tertentu, dan dihitung dalam satuan waktu (bytes per second / bps). Semakin besar bandwidth berarti semakin banyak pengunjung yang dapat mengakses website kita. Umumnya, penyedia hosting memberikan limitasi untuk ini (biasanya dihitung per bulan). Sebagian tidak (unlimited).
  10. Jumlah Add-on Domain:
    Jumlah domain tambahan yang bisa kita tambahkan dalam 1 paket hosting. Di masa sekarang, banyak penyedia hosting yang tidak memberikan batasan untuk ini (unlimited). Sebenarnya, limitasi add-on domain ini juga berguna untuk menjaga performa hosting secara keseluruhan, khususnya tipe shared-hosting.
  11. I/O (Input/Output) Usage:
    I/O adalah kecepatan read and write dari hosting kita. Penyedia hosting biasanya memberikan limitasi untuk pemakaian I/O ini. Umumnya mulai dari 1MB/s hingga 5MB/s. Semakin tinggi semakin baik.
  12. IOPS (I/O Per Second):
    Seberapa banyak I/O yang dapat diproses hosting kita setiap detiknya. Angka standar untuk ini adalah 1.024, 2.048, dan seterusnya.
  13. Entry Process:
    Seberapa banyak PHP Script yang berjalan pada satu waktu. Lagi, biasanya penyedia hosting menerapkan limitasi untuk ini. Limitasi ini sebenarnya adalah hal yang positif, karena alasan performa dan keamanan, terutama untuk shared-hosting.
    Standar limitasi Entry Process ini adalah 20, 30, 50, dan seterusnya. Di Panel Kontrol akan terlihat angka 0/20, 0/30, 0/50, dan seterusnya. Angka limitasi yang umum ditemui adalah 20.
    Batas Entry Process sebesar 20, bukan berarti hanya 20 orang saja yang bisa membuka website kita secara bersamaan dalam waktu yang sama. Entry Process hanya membutuhkan waktu sepersekian detik untuk menyelesaikan tugasnya kok. Yang perlu dipikirkan juga, seberapa besar prosentase kemungkinan website kita dibuka oleh 20 orang secara bersamaan dalam waktu yang benar-benar sama? Kemungkinannya sangat kecil.
  14. Jaminan Uptime:
    Jaminan Uptime adalah SLA (Service Level Agreement) untuk waktu aktif/online hosting kita dari penyedia hosting. Biasanya tersebut angka Jaminan / Garansi Uptime 99.9%. Ini berarti, pihak penyedia hosting kita memberikan jaminan maksimal downtime adalah 1 menit 26 detik per hari, 10 menit 4 detik per minggu, 43 menit 49 detik per bulan, dan 8 jam 45 menit per tahun. Bila sampai terjadi di bawah batasan jaminan uptime itu, penyedia hosting yang baik akan memberikan kompensasi.
    *Untuk melihat kalkulasi uptime bisa dilihat di sini.
  15. Batasan Inodes
    Inode adalah struktur data yang digunakan untuk menyimpan data meta file. Nomor inode dalam panel kontrol mewakili jumlah file dan folder secara kolektif yang ada dalam akun hosting kita (misal dalam akun hosting kita ada 2 folder yang masing-masing berisi 4 file, berarti jumlah inodes-nya adalah 10). Batasan jumlah inodes biasanya diterapkan pada paket hosting dengan kapasitas unlimited.
    Jika website kita menggunakan wordpress, walaupun sebenarnya jumlah inodes dapat dikelola, kita wajib concern tentang ini.
  16. Security dan Proteksi
  17. Panel Kontrol
    Panel Kontrol dalam hosting adalah panel dengan antarmuka berbasis web yang disediakan oleh layanan web hosting untuk mengontrol, mengubah, dan mengisi paket hosting. Termasuk di dalamnya, instalasi Content Management System (seperti WordPress, Joomla, Drupal, dsb), instalasi SSL, membuat dan mengubah database, dan masih banyak lagi.
    Panel Kontrol yang paling populer adalah cPanel. Namun karena harganya sekarang tinggi, banyak penyedia hosting yang berganti ke Plesk dan Direct Admin. Hal ini tidak perlu terlalu kita pusingkan. Karena baik cPanel, Plesk, maupun Direct Admin, ketiganya sama-sama mudah untuk dioperasikan, dan tidak ada pengaruh pada performa website kita. Ketiganya pun sudah dibekali dengan software manajemen instalasi untuk menginstal software-software yang kita butuhkan untuk website kita.
  18. Fasilitas Tambahan:
    • SSL
      SSL adalah singkatan dari Secure Socket Layer. Fungsinya sebagai lapisan keamanan untuk melindungi transaksi di website kita dengan teknologi enkripsi data; agar sebuah situs web dapat membuat sambungan serta transfer data yang aman dan terenkripsi dengan browser pengakses.
      Website yang memiliki sertifikat SSL alamatnya akan berubah menjadi https, seperti https://thinkdigital.co.id.

      Rata-rata penyedia hosting saat ini sudah menyediakan fasilitas sertifikat SSL ini secara gratis dalam paket hostingnya.
    • Installer Script
      Fasilitas Installer Script seperti Softaculous ini penting. Karena ini akan memudahkan kita menginstall software Content Management System seperti wordpress untuk website kita.
      Mayoritas penyedia jasa hosting saat ini sudah menyertakan Softaculous Apps Installer dalam paket hostingnya.
    • Backup
      Fasilitas backup data sudah menjadi kebutuhan dasar dari semua web hosting. Ini penting karena kita tidak dapat memprediksi error-error yang mungkin akan terjadi.
      Mayoritas penyedia jasa hosting saat ini sudah memiliki layanan backup. Frekuensinya yang berbeda-beda. Biasanya mulai dari setiap 1 minggu atau setiap 1 bulan.

Teliti sebelum membeli. Pastikan tidak ada hidden cost atau bahkan hidden specs.

Penyedia hosting yang baik adalah penyedia hosting yang transparan dalam menginformasikan spesifikasi masing-masing produk hostingnya. Bila ada dari daftar di atas yang tidak dapat kita temukan di website penyedia hosting yang kita incar, tanyakan langsung ke Customer Support-nya untuk mendapatkan informasi yang jelas.

Yang Perlu Kita Pastikan Di Awal

Hal dasar yang perlu kita pastikan terlebih dahulu saat hendak memilih hosting untuk website Anda:

  1. Kredibilitas dan Badan Usaha:
    Pilih penyedia hosting dengan latar belakang yang jelas dan rekam jejak yang positif. Penyedia hosting yang memiliki badan hukum resmi untuk usahanya adalah jaminan awal untuk keamanan website kita.
  2. Harga Registrasi dan Harga Renewal
    Banyak sekali penyedia jasa hosting yang memberikan harga promo untuk akuisisi pelanggan baru. Bahkan sering, potongan harganya bisa sampai 50% dari harga normal paket hostingnya.
    Yang harus kita ketahui detail terlebih dulu, apakah potongan harga itu juga berlaku biaya untuk perpanjangan? Biasanya, untuk biaya perpanjangan yang sama dengan harga promo pembelian awal, penyedia jasa hosting menggunakan istilah ‘recurring’ dalam harga promonya.
    Sebenarnya, bagi yang sudah bisa backup dan migrasi sendiri, hal ini bukan masalah yang besar kok. Ketika paket hosting sudah akan habis dan biaya perpanjangan jauh lebih mahal, kita bisa dengan mudah memindahkan data website kita ke hosting baru.
  3. Jaminan Uptime:
    Cari penyedia hosting yang menuliskan jumlah 1 digit tambahan di belakang angka 99.9 dan memberikan jaminan uptime di atas 99,95%, karena itu berarti mereka memiliki komitmen positif untuk menjaga performa hostingnya dan peduli terhadap pelanggannya.
    Catatan: Tidak perlu terlalu terbawa emosi bila menjumpai hosting yang kita gunakan sedang down. Semua sistem, seperti layaknya manusia, tidak akan selalu bisa siaga 100% dalam performa terbaiknya setiap waktu. Memahami dan memaklumi ini adalah pilhan yang bijaksana.
  4. Lokasi Server
    Pastikan ini dekat dengan lokasi target audience kita. Ini demi mengurangi total load time dari pengakses website kita. Sebisa mungkin lokasi server berada di negara yang sama atau minimal dekat dengan negara lokasi target audience. Semakin dekat semakin baik. Misal, lokasi target audience kita berada di Indonesia, sebisa mungkin lokasi server hosting kita berada di Indonesia, atau Singapura.
    Walaupun ini bisa ‘kita akali’ dengan Cloudflare, tapi ada baiknya mengurangi jumlah pihak tempat kita bergantung kan? 😉
  5. Customer Support
    Ini penting sekali. Kita tidak bisa memprediksi kemungkinan error yang akan terjadi. Dan bila itu terjadi, memiliki customer support yang helpful dan responsif sangat wajib akan sangat membantu. Tidak harus yang standby 24 jam, tapi yang selalu siap membantu dan responsif di saat jam kerja.

Rekomendasi Memilih Hosting versi ThinkDigital

  1. Harga:
    Jangan tergiur dengan harga murah, walaupun itu hanya berupa promo yang bersifat sementara. Terutama untuk website-website yang memang kita kelola dengan serius. Hosting yang murah akan mengundang banyak massa yang beragam, sedangkan kita tidak bisa mengetahui standar pengamanan masing-masing akun dalam paket hosting tersebut. Terutama untuk shared-hosting.
  2. Kapasitas Penyimpanan:
    Jangan tergiur dengan kapasitas Hosting Unlimited. Semua tentu harus ada limitasinya.
    Kapastitas Hosting Unlimited biasanya mempunyai limitasi-limitasi lain yang seringnya tidak ditampilkan secara transparan. Limitasi yang umum biasanya berupa batasan jumlah inodes. Sayangnya, selain inodes, limitasi-limitasi yang lain seringnya tidak ditampilkan.

    Lebih baik memilih hosting dengan kapasitas terbatas tapi tidak ada limitasi untuk sepesifikasi lainnya. Dan yang terpenting, semua spesifikasi tertera dengan jelas di website penyedia hosting.
  3. Jenis Media Penyimpanan, Web Server, PHP Support, dan Database:
    Standar storage untuk hosting saat ini adalah SSD, dengan LiteSpeed Web Server, PHP Support hingga versi PHP 7 terakhir, dan sebisa mungkin, menggunakan MariaDB untuk database.
  4. CPU Core, RAM, I/O, IOPS, Bandwidth:
    Ini tergantung dari jenis script dan traffic dari website kita. Namun standar sederhana ini mungkin bisa dijadikan patokan.
    • CPU Core:
      Minimal 2 Core untuk Shared-Hosting, 1 Core untuk Semi-Dedicated Hosting, dan 0,5 Core untuk Dedicated Hosting.
    • RAM:
      Minimal 2GB untuk Shared-Hosting, 1GB untuk Semi-Dedicated Hosting, dan 0,5GB untuk Dedicated Hosting.
    • I/O, IOPS, dan Bandwith:
      I/O Minimal 1MB, IOPS 1.024, dengan bandwith Unlimited.
  5. Fasilitas Tambahan:
    Free sertifikat SSL, Installer Script, dan Backup (semakin dekat atau cepat frekuensinya semakin baik)

Cara Terbaik Untuk Menjatuhkan Pilihan

Yang perlu dipahami, spesifikasi tinggi tidak menjamin kecepatan dan performa hosting. Terutama untuk tipe shared-hosting. CPU Core yang tinggi, RAM dan Bandwidth yang besar atau bahkan unlimited, serta semua sepesifikasi lainnya itu tidak memberikan jaminan pada performa hosting.

Mengapa? Karena kita tidak bisa mengetahui detail alokasi spesifikasi tersebut untuk masing-masing akun hosting. Ini merupakan ‘rahasia dapur’ dari masing-masing penyedia hosting.

Ilustrasinya begini: Untuk shared-hosting, RAM sebesar 4GB yang digunakan oleh 100 orang, dengan RAM sebesar 1GB yang hanya digunakan oleh 10 orang, tentu yang terakhir akan memiliki performa yang jauh lebih baik.

Karena racikan admin server memiliki pengaruh yang sangat besar dalam menentukan performa hosting, cara terbaik untuk mengetahui bagus atau tidaknya (serta cepat atau tidaknya) dari suatu hosting adalah dengan mencoba sendiri.

Mayoritas penyedia hosting memberi kesempatan untuk trial selama 1 bulan, atau minimal, mereka memiliki opsi pembayaran bulanan. Kita bisa memanfaatkan itu untuk mencoba dan mencari hosting yang terbaik untuk website kita.

Rekomendasi Hosting versi ThinkDigital

ThinkDigital sudah mencoba berbagai macam hosting dari penyedia jasa hosting di Indonesia. Dari beberapa penyedia jasa hosting yang sudah dicoba, ThinkDigital sangat puas dengan performa dan pelayanan hosting dari HostinganID.

ThinkDigital banyak menggunakan Cloud Hosting (data center Singapore) dari HostinganID. Performa hostingnya sangat bagus. TTF (Time To First Byte) dan load time secara keseluruhan pun terhitung sangat cepat.

Jujur, ThinkDigital tidak sengaja menemukan HostinganID. Hanya karena kebetulan sempat mendapatkan template theme yang tidak ‘beautifully coded‘, dan terpaksa mencoba banyak hosting saat itu.

Diantara semua hosting yang sudah dicoba, HostinganID satu-satunya yang berhasil meng-‘handle‘ theme tersebut tanpa error satupun secara default. Racikan server-admin-nya sangat bagus.

And we love them since.

Tips dan Cara Paling Aman Membeli Domain

Saat ini banyak registrar baru yang nyaris semuanya menawarkan harga murah dengan label ‘promo’. Don’t get lured. Periksa dulu reputasi dan kredibilitasnya.

Jangan Tergiur Harga Murah

Jangan pernah tergiur harga murah saat membeli domain. Resikonya bisa besar sekali.

Ilustrasinya begini: Bila pihak penyedia hosting mendadak hilang, kita masih bisa meminimalisir resiko dan menyelamatkan data dengan disiplin backup secara rutin, dan melakukan restore menggunakan data backup terakhir yang kita miliki. Namun, bila situasi yang sama terjadi di pihak tempat kita membeli domain, nyaris tidak ada satupun hal yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan domain yang kita miliki..

Tanpa harga promo, bila memang serius, harga normal dari tiap ekstensi domain yang populer sebenarnya cukup terjangkau kok. Jadi tidak perlu tergiur dengan harga murah dari program-program promo yang ada.

Aman Membeli Domain

Teliti sebelum membeli. Ada beberapa tips sederhana untuk memastikan bahwa kita membeli domain di tempat yang aman:

  1. Periksa status badan usahanya. Bila registrar sudah berbadan hukum yang sah, ini sudah memberikan banyak poin positif untuk bisa mulai mempercayai registrar tersebut.
  2. Cari tau rekam jejaknya. Poin positif yang dimiliki oleh registrar berbadan hukum tidak selalu berbanding lurus dengan kredibilitasnya. Pastikan tidak ada rekam jejak negatif dari registrar tersebut.
    Untuk registrar lokal, rekomendasi registrar domain yang memiliki rekam jejak yang jelas sebagian diantaranya adalah:
    • IDwebhost
    • Rumahweb
    • Natanetwork
    • IDcloudhost
    • HostinganID
    • Domainesia
    • Qwords
    • Rackh
    • Merekmu
    • dan semua nama yang terdaftar sebagai registrar PANDI
      All are worry free.

Menjadi Reseller Domain

Khusus bagi yang memang serius, memiliki rencana jangka panjang untuk website yang dimiliki, dan (mungkin) memliki lebih dari 1 website, ada 1 tips tambahan yang sebenarnya paling aman untuk membeli domain: Mendaftar sebagai reseller domain.

Mungkin banyak yang belum tau, untuk mendaftar sebagai reseller domain tidak harus memiliki badan usaha. Semua individu bisa mendaftar secara personal. Persyaratan dan proses penyetujuannya pun cukup mudah dan cepat.

Kelebihan utama dengan mendaftar sebagai reseller domain adalah kita jadi memiliki akses dan kuasa penuh untuk semua domain yang kita miliki.

Reseller Camp dari IDwebhost dan Digital Registra dari Rumahweb adalah 2 pemain besar yang bahkan adalah 2 verified registrar pertama PANDI. IDwebhost sendiri adalah registrar pertama di Indonesia yang terakreditasi ICANN.

Jangan khawatir dengan harga. Tier terendah dari masing-masing registrar di atas sangat terjangkau. Mulai dari Rp. 1.000.000,- untuk Reseller Camp, dan Rp. 2.000.000,- untuk Digital Registra.

Informasi dan Review Singkat Reseller Camp dan Digital Registra:

  • Reseller Camp
  • Reseller Camp kurang lebih memiliki 2 bagian:

    • ResellerCamp.ID
    • Minimum Deposit Rp. 1.000.000,-. Hanya ekstensi domain populer.

    • ResellerCamp.COM
    • Minimum Deposit Rp. 2.000.000,-. Hampir seluruh ekstensi domain tersedia.

    Untuk mendaftar menjadi reseller domain di Reseller Camp, kita hanya perlu mengisi form yang tersedia di website-nya.

  • Digital Registra
  • Minimum Deposit Rp. 2.000.000,-. Hampir seluruh ekstensi domain tersedia.

    Untuk mendaftar menjadi reseller domain di Digital Registra, kita perlu mengisi form yang tersedia di website-nya dan form fisik yang harus kita print dan kita kirimkan ke alamat kantor Digital Registra setelah kira isi dan tanda-tangani.

Baik Reseller Camp maupun Digital Registra, keduanya menggunakan Domain Management Software buatan sendiri. Secara umum, tampilan domain management software milik Reseller Camp terlihat lebih chic dan user friendly. Knowledge Base keduanya sama-sama lengkap, walau dari pengalaman ThinkDigital, sedikit lebih lengkap milik Digital Registra.

Penjelasan detail tentang menjadi Reseller Domain di Reseller Camp dan Digital Registra akan kami ulas khusus di artikel yang terpisah.

Menjadi Reseller Domain merupakan solusi terbaik bagi yang ingin membeli dan menyimpan domainnya secara aman. Terutama untuk yang memiliki lebih dari 1 website / domain.

Resume

Tips dan Cara Paling Aman Membeli Domain di Manapun

Jangan tergiur harga murah.
Periksa status badan usahanya.
Cari tau rekam jejaknya.
Pastikan terdaftar sebagai registrar PANDI dan/atau ICANN.
Khusus yang memiliki lebih dari 1 domain: Menjadi Reseller Domain.

Marketing, Dulu dan Kini

The first thing that Aditya, 23, does when he wakes up at 7 in the morning is check the messaging app on his smartphone. That is also the last thing that Aditya, a postgraduate student living with his parents and younger brother in one of India’s big cities, does before he goes to bed 18 hours later.

In between, Aditya (we’ve changed his name) is never far from his smartphone. He uses it to listen to music on his way to his university classes, to look for deals on e-commerce sites, and to Skype with a friend who is studying abroad. Dinner table discussions of where to go on a holiday or what television to buy are usually in- formed by something that Aditya is looking at in real time on his phone.

India, China, Brazil, and other emerging markets are home to a lot of people who, like Aditya, rely on the internet either to make or guide their purchases. As of 2017, upward of 2.1 billion internet users lived in emerging markets. By 2022, that num- ber will likely swell to around 3 billion, and three times as many internet users will live in emerging markets as in developed markets.

In terms of growth, emerging-market digital consumers represent an enormous opportunity. Even when such consumers don’t buy directly on the internet, information that they find online—typically on a smartphone—often influences their pur- chasing decisions. Four years from now, the total value of digitally influenced spending in emerging markets will approach $4 trillion, according to our estimate.

Digital Consumers, Emerging Markets, and the $4 Trillion Future (2018) – Boston Consulting Groups

Cerita di atas adalah ilustrasi kehidupan mayoritas generasi produktif saat ini. Sudah sangat berubah dari pola yang ada di 10 tahun yang lalu.

Mari kita flashback, marketing outlook di Indonesia pada masa itu.

Marketing Outlook di Awal Dekade 2000

Awal tahun 2000an adalah tahun-tahun pijakan dari perubahan yang terjadi saat ini. Pada awal dekade 2000, pendekatan pemasaran yang bersifat top-down sudah mulai berubah ke era pemasaran horisontal.

Keyword yang menjadi filosofi para pebisnis dan pemasar pada masa itu adalah low budget, high impact. Semua yang aktif di dunia bisnis dan pemasaran di awal dekade 2000 pasti mengingat filosofi yang hampir selalu menjadi headline di media-media bisnis dan pemasaran pada masa ini.

Pemicunya adalah krisis ekonomi yang terjadi di tahun 1998. Indonesia yang saat itu sempat berada di titik terendah, perlu berjuang keras untuk bisa kembali mencari dan membangun equilibrium baru.

Anggaran pemasaran di hampir seluruh perusahaan, nyaris tidak ada bedanya dengan daya beli masyarakat yang sangat rendah di masa itu.

Periode tersebut memaksa para pebisnis dan pemasar di Indonesia untuk menggunakan filosofi low budget, high impact ini sebagai dasar mind-set dari segala aktivitas pemasarannya. Internet yang mulai berkembang penggunaannya pada periode tersebut menjadi enabler atas prinsip ini.

Pada masa ini, mayoritas awareness untuk produk dan merek masih lebih banyak didapatkan dari aktivitas offline yang dilakukan oleh para pemilik produk atau merek. Pola persebaran informasi dari mulut ke mulut (Word of Mouth) pun masih sangat terbatas penyebarannya.

Era ini memang merupakan era booming-nya Word of Mouth Marketing (WoMM). Dan salah satu turunan dari WoMM, Community Marketing, menjadi primadona.

Komunitas menjadi tujuan dari semua pebisnis dan pemasar, baik itu komunitas yang ia buat sendiri, maupun komunitas yang sudah existing. Djarum Black Community adalah salah satu yang menikmati masa jayanya pada era ini.

Marketing Outlook di Pertengahan Dekade 2000

Mulai sejak sekitar pertengahan dekade 2000, para pemilik merek mulai memiliki kesempatan untuk menjangkau pasar dan komunitas yang lebih luas berkat internet yang semakin berkembang. Forum-forum online yang mulai marak (ode to Kaskus!), menjadi target dari para pemasar untuk melakukan penetrasi produk atau mereknya.

Era ini memang eranya forum online. Selain Kaskus, banyak forum lain yang bermunculan dan memiliki massa yang cukup besar juga. Bahkan banyak media-media nasional seperti Kompas dan Detik yang juga membuat forum online serta menyediakan blogging platform di websitenya. Semua demi menjaring dan utilizing comunnity.

Weddingku adalah salah satu yang tampil cantik menjangkau komunitas di masa itu dengan membuat komunitasnya sendiri melalui online forum di websitenya.

Marketing Outlook di Akhir Dekade 2000 dan Awal Dekade 2010

Akhir dekade 2000 dan awal dekade 2010 adalah fase yang sangat menarik bagi perkembangan dunia bisnis dan pemasaran di Indonesia.

Online Social Media yang mulai berkembang dan masif digunakan di akhir dekade 2000an menjadi angin segar, terutama bagi para UKM dan startup di masa ini, sekaligus menjadi game changer di dunia bisnis dan pemasaran.

Kreatifitas dari para pemasar berpadu dengan excitements dari para audiens masing-masing merek dalam menyambut era dan ‘pola baru’ yang diberikan oleh kemajuan perkembangan internet, media sosial, dan mobile cellular.

Dengan semakin horisontalnya arus komunikasi, amplifier informasi tidak lagi didominasi oleh TV/Radio Commercial dan printed Ad di media-media nasional maupun lokal.

Facebook dan Twitter menjadi medium utama untuk melakukan campaign. Instagram yang penggunaannya masih terbatas pada Iphone dan Ipad masih belum memiliki massa yang besar saat itu.

Surfer Girl dari Bali adalah salah satu yang layak dipuji dalam cara pemanfaatan Facebook sebagai medium brand campaign-nya. Surfer Girl sudah membuat visual story telling campaign (sering juga berupa comic strip) di akun Facebooknya, bahkan sejak sebelum Facebook meluncurkan Facebook Page.

Walau sempat tampak ‘gagap’ atas perubahan yang terjadi, merek-merek besar mayoritas banyak yang sanggup beradaptasi dengan situasi ini.

Pocari Sweat adalah salah satu pelopor dari jajaran merek besar di Indonesia yang melakukan social media campaign dengan cantik melalui akun twitternya; @pokariID.

Era inilah yang mulai membuat booming istilah, yang sebenarnya salah kaprah bila ditilik secara serius dari definisi sebenarnya; Buzzer.

Muncul individu-individu yang menjadi ‘celebrity‘ baru dalam media sosial yang menjadi target kerjasama para pemasar untuk mempromosikan produk dan mereknya. Komunikasi pemasaran berubah seketika menjadi sangat horisontal, peer-to-peer, many-to-many, dan bahkan bottom-up.

Kemajuan Internet memang membuat segalanya menjadi sangat interaktif dan dinamis. Semua orang menjadi lebih mudah mengekspresikan diri, melakukan networking, membentuk komunitas, berkolaborasi, dan berpartisipasi dalam sebuah kegiatan yang bahkan mungkin hanya dilakukan secara online.

Semua jadi memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi publisher. Dan yang terpenting, semua jadi punya kesempatan yang nyaris equal untuk berjualan.

Semua aktivitas marketing langsung berubah. Nyaris semua pebisnis dan pemasar fokus atau memberikan porsi besar pada online marketing activity.

Platform e-Commerce banyak bermunculan dan disambut gembira oleh banyak UKM pada masa ini. Transaksi penjualan online yang sebelumnya banyak dilakukan di forum-forum jual beli menjadi semakin masif dengan hadirnya Bukalapak dan Tokopedia.

Berjualan menjadi semakin lintas batas. Resiko melakukan transaksi jual-beli secara online menjadi semakin kecil, Hal ini juga membuat bisnis di kategori Courier Service memiliki market demand yang luar biasa besar.

Era ini menjadi awal ter-reduksinya peran merek dalam proses buying decisions, terutama di kelompok generasi produktif. Ragam kebutuhan yang semakin banyak, dan semakin banyaknya pilihan untuk suatu produk, membuat mayoritas individu lebih mementingkan harga yang murah untuk jenis produk yang umum.

Instagram yang mulai membuka diri untuk publik yang lebih luas merilis versi Android App-nya pada bulan April tahun 2012, seiring dengan diakuisisinya Instagram oleh Facebook (9 April 2012), dan langsung diunduh lebih dari satu juta kali dalam waktu kurang dari satu hari, turut memberikan tatanan baru bagi pebisnis dan pemasar dalam memasarkan produk atau mereknya.

Walaupun sempat tidak terlalu disukai karena banyaknya spammy hashtag, meningkatnya trend untuk visual content membuat Instagram berhasil menjadi saluran promosi baru, baik itu melalui platform iklan resmi dari Instagram, maupun dengan memanfaatkan ‘Instagram Celebrity‘ sebagai saluran promosinya.

Facebook Ads, Instagram Ads, Youtube Ads, Google Ads, dan Influencer Marketing menjadi andalan utama para pemasar dan pebisnis di era ini.

..still on progress..

Going Digital

Disrupsi sudah menjadi buzz-word yang sangat populer beberapa tahun terakhir ini. Hampir semua ‘pakar’ menggunakan teori disrupsi untuk menjelaskan fenomena-fenomena perubahan yang terjadi saat ini.

Era digital memang sudah menciptakan pola-pola kerja baru hingga model bisnis yang mungkin belum pernah kita bayangkan sebelumnya. Landscape industri saat ini benar-benar sudah berubah dibandingkan 10 tahun yang lalu.

Efisiensi menjadi keyword yang mendasari semua aktivitas bisnis, dari hulu hingga ke hilir. Kuncinya adalah menjadi adaptif.

Revolusi Digital di sektor bisnis dan industri didorong oleh empat jenis teknologi yang menjadi change drivers, dan telah melaju dengan cepat dalam beberapa tahun terakhir ini. Dampaknya sangat signifikan terhadap perubahan ekonomi global.

  • Mobile Internet:
    Berkembangnya teknologi perangkat mobile cellular semakin menarik minat banyak orang untuk memiliki dan menggunakannya secara intensif. Dengan semakin banyaknya produsen yang menjual lini produk smartphone dengan harga terjangkau, dan koneksi internet yang semakin murah, membuat pengguna mobile cellular semakin banyak.
    Mobile cellular saat ini telah mengambil alih fungsi perangkat internet di rumah sebagai gateway utama yang digunakan semua orang untuk mengakses Internet. Di seluruh dunia, 60 persen dari semua lalu lintas online saat ini berasal dari perangkat mobile.
  • Cloud Technology:
    Koneksi Internet yang lebih murah dan lebih cepat serta semakin mumpuninya daya komputasi perangkat IT telah memungkinkan lebih banyak data yang diakses dari jarak jauh. Pada tahun 2014, untuk pertama kalinya di Indonesia, lebih banyak beban kerja informasi yang diproses melalui cloud dibandingkan di ruang IT tradisional.
  • Internet of Things (IoT):
    Pengertian Internet of Things kurang lebih adalah suatu konsep dimana objek tertentu memiliki kemampuan untuk mentransfer data lewat jaringan tanpa memerlukan adanya interaksi dari manusia ke manusia ataupun dari manusia ke perangkat komputer (sumber). Konsep ini pada dasarnya bertujuan untuk memperluas manfaat dari konektivitas internet yang tersambung secara terus-menerus; seperti berbagi data, remote control, dan lain sebagainya.
    Pada 2015, ada 18,2 miliar perangkat digital yang terkoneksi dengan internet. Pada tahun 2020, jumlah ini diperkirakan akan meningkat tiga kali lipat, menjadi 50 miliar. Koneksi Internet yang lebih cepat dan handal memacu lebih banyak perangkat yang terkoneksi dan dikendalikan dari jarak jauh. Menciptakan beragam model bisnis dan pola kerja yang baru.
  • Big Data dan Advanced Analytics:
    Di tahun 2016, lalu lintas Internet tercatat mencapai 1 zetabyte. Ini setara dengan 1 triliun gigabytes.
    Dengan kemampuan komputasi dan analitis yang canggih, teknologi sudah meningkatkan kemampuan pengambilan keputusan manusia. Dari sisi bisnis dan industri, ini membuat para pebisnis dan profesional mengoptimalkan rantai pasokan dan proses bisnisnya, di berbagai macam bidang.

Di Indonesia sendiri, perkembangan internet dan perangkat digital sudah merubah banyak tatanan industri dan pola hidup

Dari data yang diambil dari survey WeAreSocial ini, dengan total populasi sekitar 268 juta, pengguna internet yang aktif tercatat sebanyak 150 juta. Ini sudah lebih dari separuh total populasi. Angka yang mengagumkan mengingat kondisi geografis dan angka pembangunan yang belum merata di negeri ini.

Yang perlu dicatat, jumlah total pengguna internet dengan jumlah pengguna social media sama banyaknya (150 juta), dan lebih dari 80% yang mengaksesnya secara aktif menggunakan perangkat mobile mereka.

..still on progress..