Tips Memilih Hosting: Pilih Murah atau Cepat?

Pilih hosting yang murah atau yang cepat? Tidak ada jawaban yang baku untuk menjawab pertanyaan ini. Semua tergantung pada kebutuhan website kita sendiri.

Jenis Website Mempengaruhi Keperluan Anggaran

Kalau website kita lebih banyak bersifat statis seperti company profile dan portofolio, tidak perlu memilih hosting yang mahal dengan spesifikasi yang tinggi. Biaya yang kita keluarkan tidak akan setimpal dengan keperluan dan tujuan kita membuat website.

Kalau website kita bersifat dinamis dan interaktif serta memiliki traffic yang cukup besar, memilih hosting yang cepat sepertinya adalah pilihan terbaik.

Website yang dinamis memerlukan kapasitas yang cukup besar karena jumlah data dan file yang terus bertambah. Sedangkan website interaktif memerlukan kapasitas Bandwidth, RAM, I/O, IOPS, Entry Process, yang tinggi.

Bila dikelompokkan secara sederhana, pembagiannya adalah seperti ini:

  • Website Statis (Company Profile dan Portofolio)
    1. Harga Hosting: Sangat bisa murah
    2. Spesifikasi yang diperlukan: Standar
  • Website Dinamis dan Interaktif (E-Commerce, Blog, Situs Berita, dsb)
    1. Harga Hosting: Umumnya tinggi
    2. Spesifikasi yang diperlukan: Kapasitas penyimpanan, Bandwidth, RAM, I/O, dan IOPS yang tinggi.

Ingat, cepat tidak selalu mahal. Performa setiap hosting sangat tergantung dari kebijakan masing-masing penyedia hosting dalam meramu produk, dan terutama, racikan sang admin server. Penjelasan lebih lanjut tentang ini bisa ditemukan di bawah.

Pengetahuan Dasar Tentang Hosting yang Harus Kita Kuasai

Sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya kita memahami penjelasan istilah dan spesifikasi hosting ini terlebih dahulu:

  1. Jenis Hosting
    • Shared Hosting
      Ini adalah layanan hosting yang paling basic sekaligus paling populer karena harganya paling terjangkau. Seperti namanya, dalam shared-hosting,
      penyedia hosting membagi-bagi resource dari 1 server dan mengalokasikannya ke banyak klien, sehingga kita akan berbagi resource dalam 1 server dengan banyak pengguna lain. Karena sifatnya berbagi, layanan shared-hosting adalah layanan hosting yang paling murah.
    • Dedicated Hosting
      Ini adalah kebalikan dari shared-hosting. Dalam dedicated hosting, kita tidak akan berbagi resource dengan banyak pengguna lain. Baik CPU Core, RAM, dan spesifikasi lain yang tertera, semuanya dedicated untuk 1 akun hosting.
    • VPS Hosting
      VPS adalah kependekan dari Virtual Private Server. Dalam VPS, kita akan diberi akses ke virtual server. Sehingga kita seakan-akan memiliki server khusus sendiri. Semua resource, baik CPU Core, Ram, dan space, adalah untuk kita sendiri.
      Layanan VPS terbagi jadi 2, Managed VPS dan Unmanaged VPS. Dalam Managed VPS, semua konfigurasi dan bahkan maintenance dilakukan oleh pihak penyedia hosting, seperti layaknya shared dan dedicated hosting. Sedangkan untuk Unmanaged VPS, berarti kita mengkonfigurasi sendiri mulai dari sistem operasi, security software, dan semua kebutuhan lainnya.
    • Cloud Hosting
      Teknologi Cloud Hosting adalah pembaharuan dari teknologi web hosting konvesional. Cloud Hosting adalah hosting virtual yang menggunakan banyak server yang saling terhubung dan bekerja layaknya 1 server yang utuh. Keunggulan dari teknologi ini adalah performa yang lebih terjaga.

      Dengan banyaknya server yang digunakan, uptime dan downtime lebih bisa dikelola karena masing-masing server akan saling berbagi beban kerja. Ketika ada salah satu server yang bermasalah, server yang lain dapat mengambil alih tugas. Ini yang membuat uptime dari cloud hosting umumnya lebih tinggi dari hosting konvensional.
  2. Jenis Media Penyimpanan (Storage)
    • HDD
      Media penyimpanan tradisional, menggunakan piringan untuk menyimpan data.  
    • SSD
      SSD adalah media penyimpanan yang populer saat ini. SSD menyimpan data dalam chip, dan memiliki kecepatan baca dan tulis jauh lebih cepat dari HDD. Mayoritas penyedia hosting saat ini sudah menggunakan SSD untuk media penyimpanan hostingnya. 
  3. Kapasitas Penyimpanan
    • Unlimited
      Sejak 1 tahun terakhir ini, banyak penyedia hosting (terutama yang terhitung masih baru) menawarkan unlimited storage untuk paket hostingnya. Kompensasinya, limitasinya dipindahkan ke spesifikasi lain. Salah satunya adalah inodes.
    • Limited
      Umumnya, penyedia hosting yang reliable tetap memberikan limitasi kapasitas dalam setiap paket hostingnya. Mereka memilih untuk tidak membatasi spek-sepek wajib di balik layar untuk menjaga performa hostingnya, dan tetap memberikan limitasi bertingkat untuk kapasitas hostingnya. 
  4. Jenis Web Server
  5. Jenis Database
  6. PHP Support
    PHP adalah bahasa pemrograman yang diproses oleh server (server-side) dan didesain untuk pembuatan website (atau aplikasi apapun yang berbasis web). Tidak semua website dibuat menggunakan PHP. Menggunakan murni HTML pun bisa. Namun, bila website kita menggunakan wordpress, PHP support menjadi hal yang wajib.
    Versi PHP terbaru adalah PHP 7, atau lebih tepatnya, PHP 7.4. Semakin baru versinya, performanya semakin cepat. Mayoritas penyedia hosting di Indonesia saat ini, hingga tulisan ini ditulis, baru support hingga versi PHP 7.3, karena memang PHP 7.4 baru saja dirilis pertengahan Desember kemarin (2019).
  7. CPU Core
    Seberapa banyak processor yang tersedia dan dialokasikan dalam suatu paket hosting. Processor berfungsi untuk mengatur semua instruksi dari software ke dalam server. Ia bertugas untuk mengatur jalannya semua program dan aktifitas di dalam server.
    Semakin besar angka CPU Core, di atas kertas akan membuat performa hosting semakin baik.
  8. RAM
    RAM adalah singkatan dari Random Access Memory. Sebelum menyampaikan instruksinya kepada software, CPU/processor akan terlebih dulu menyimpan data ke dalam RAM. RAM bertanggung jawab untuk menyimpan dan menyediakan, untuk sementara, semua data yang diperlukan untuk menjalankan program atau aplikasi.
    Sama seperti CPU Core, semakin besar angka RAM yang disediakan, di atas kertas akan membuat performa hosting semakin baik.
  9. Bandwidth
    Kapasitas (kecepatan dan jumlah) konsumsi/transfer data antara server hosting > situs web > pc/laptop/hp yang terhubung (mengaksesnya) dalam waktu tertentu, dan dihitung dalam satuan waktu (bytes per second / bps). Semakin besar bandwidth berarti semakin banyak pengunjung yang dapat mengakses website kita. Umumnya, penyedia hosting memberikan limitasi untuk ini (biasanya dihitung per bulan). Sebagian tidak (unlimited).
  10. Jumlah Add-on Domain:
    Jumlah domain tambahan yang bisa kita tambahkan dalam 1 paket hosting. Di masa sekarang, banyak penyedia hosting yang tidak memberikan batasan untuk ini (unlimited). Sebenarnya, limitasi add-on domain ini juga berguna untuk menjaga performa hosting secara keseluruhan, khususnya tipe shared-hosting.
  11. I/O (Input/Output) Usage:
    I/O adalah kecepatan read and write dari hosting kita. Penyedia hosting biasanya memberikan limitasi untuk pemakaian I/O ini. Umumnya mulai dari 1MB/s hingga 5MB/s. Semakin tinggi semakin baik.
  12. IOPS (I/O Per Second):
    Seberapa banyak I/O yang dapat diproses hosting kita setiap detiknya. Angka standar untuk ini adalah 1.024, 2.048, dan seterusnya.
  13. Entry Process:
    Seberapa banyak PHP Script yang berjalan pada satu waktu. Lagi, biasanya penyedia hosting menerapkan limitasi untuk ini. Limitasi ini sebenarnya adalah hal yang positif, karena alasan performa dan keamanan, terutama untuk shared-hosting.
    Standar limitasi Entry Process ini adalah 20, 30, 50, dan seterusnya. Di Panel Kontrol akan terlihat angka 0/20, 0/30, 0/50, dan seterusnya. Angka limitasi yang umum ditemui adalah 20.
    Batas Entry Process sebesar 20, bukan berarti hanya 20 orang saja yang bisa membuka website kita secara bersamaan dalam waktu yang sama. Entry Process hanya membutuhkan waktu sepersekian detik untuk menyelesaikan tugasnya kok. Yang perlu dipikirkan juga, seberapa besar prosentase kemungkinan website kita dibuka oleh 20 orang secara bersamaan dalam waktu yang benar-benar sama? Kemungkinannya sangat kecil.
  14. Jaminan Uptime:
    Jaminan Uptime adalah SLA (Service Level Agreement) untuk waktu aktif/online hosting kita dari penyedia hosting. Biasanya tersebut angka Jaminan / Garansi Uptime 99.9%. Ini berarti, pihak penyedia hosting kita memberikan jaminan maksimal downtime adalah 1 menit 26 detik per hari, 10 menit 4 detik per minggu, 43 menit 49 detik per bulan, dan 8 jam 45 menit per tahun. Bila sampai terjadi di bawah batasan jaminan uptime itu, penyedia hosting yang baik akan memberikan kompensasi.
    *Untuk melihat kalkulasi uptime bisa dilihat di sini.
  15. Batasan Inodes
    Inode adalah struktur data yang digunakan untuk menyimpan data meta file. Nomor inode dalam panel kontrol mewakili jumlah file dan folder secara kolektif yang ada dalam akun hosting kita (misal dalam akun hosting kita ada 2 folder yang masing-masing berisi 4 file, berarti jumlah inodes-nya adalah 10). Batasan jumlah inodes biasanya diterapkan pada paket hosting dengan kapasitas unlimited.
    Jika website kita menggunakan wordpress, walaupun sebenarnya jumlah inodes dapat dikelola, kita wajib concern tentang ini.
  16. Security dan Proteksi
  17. Panel Kontrol
  18. Fasilitas Tambahan: SSL, Installer Script, dsb.

Teliti sebelum membeli. Pastikan tidak ada hidden cost atau bahkan hidden specs.

Penyedia hosting yang baik adalah penyedia hosting yang transparan dalam menginformasikan spesifikasi masing-masing produk hostingnya. Bila ada dari daftar di atas yang tidak dapat kita temukan di website penyedia hosting yang kita incar, tanyakan langsung ke Customer Support-nya untuk mendapatkan informasi yang jelas.

Yang Perlu Kita Pastikan Di Awal

Hal dasar yang perlu kita pastikan terlebih dahulu saat hendak memilih hosting untuk website Anda:

  1. Kredibilitas dan Badan Usaha:
    Pilih penyedia hosting dengan latar belakang yang jelas dan rekam jejak yang positif. Penyedia hosting yang memiliki badan hukum resmi untuk usahanya adalah jaminan awal untuk keamanan website kita.
  2. Harga Registrasi dan Harga Renewal
  3. Jaminan Uptime:
    Cari penyedia hosting yang menuliskan jumlah 1 digit tambahan di belakang angka 99.9 dan memberikan jaminan uptime di atas 99,95%, karena itu berarti mereka memiliki komitmen positif untuk menjaga performa hostingnya dan peduli terhadap pelanggannya.
    Catatan: Tidak perlu terlalu terbawa emosi bila menjumpai hosting yang kita gunakan sedang down. Semua sistem, seperti layaknya manusia, tidak akan selalu bisa siaga 100% dalam performa terbaiknya setiap waktu. Memahami dan memaklumi ini adalah pilhan yang bijaksana.
  4. Lokasi Server
  5. Customer Support

Rekomendasi Memilih Hosting versi ThinkDigital

  1. Harga:
    Jangan tergiur dengan harga murah, walaupun itu hanya berupa promo yang bersifat sementara. Terutama untuk website-website yang memang kita kelola dengan serius. Hosting yang murah akan mengundang banyak massa yang beragam, sedangkan kita tidak bisa mengetahui standar pengamanan masing-masing akun dalam paket hosting tersebut. Terutama untuk shared-hosting.
  2. Kapasitas Penyimpanan:
    Jangan tergiur dengan kapasitas hosting unlimited. Semua tentu harus ada limitasinya.
    Kapastitas Hosting Unlimited biasanya mempunyai limitasi-limitasi lain yang seringnya tidak ditampilkan secara transparan. Limitasi yang umum biasanya berupa batasan jumlah inodes. Sayangnya, selain inodes, limitasi-limitasi yang lain seringnya tidak ditampilkan. Lebih baik memilih hosting dengan kapasitas terbatas tapi tidak ada limitasi untuk sepesifikasi lainnya. Dan yang terpenting, semua spesifikasi tertera dengan jelas di website penyedia hosting.
  3. Jenis Media Penyimpanan, Web Server, PHP Support, dan Database:
    Standar storage untuk hosting saat ini adalah SSD, dengan LiteSpeed Web Server, PHP Support hingga versi PHP 7 terakhir, dan sebisa mungkin, menggunakan MariaDB untuk database.
  4. CPU Core, RAM, I/O, IOPS, Bandwidth:
  5. Fasilitas Tambahan:

Cara Terbaik Untuk Menjatuhkan Pilihan

Yang perlu dipahami, spesifikasi tinggi tidak menjamin kecepatan dan performa hosting. Terutama untuk tipe shared-hosting. CPU Core yang tinggi, RAM dan Bandwidth yang besar atau bahkan unlimited, serta semua sepesifikasi lainnya itu tidak memberikan jaminan pada performa hosting.

Mengapa? Karena kita tidak bisa mengetahui detail alokasi spesifikasi tersebut untuk masing-masing akun hosting. Ini merupakan ‘rahasia dapur’ dari masing-masing penyedia hosting.

Ilustrasinya begini: Untuk shared-hosting, RAM sebesar 4GB yang digunakan oleh 100 orang, dengan RAM sebesar 1GB yang hanya digunakan oleh 10 orang, tentu yang terakhir akan memiliki performa yang jauh lebih baik.

Karena racikan admin server memiliki pengaruh yang sangat besar dalam menentukan performa hosting, cara terbaik untuk mengetahui bagus atau tidaknya (serta cepat atau tidaknya) dari suatu hosting adalah dengan mencoba sendiri.

Mayoritas penyedia hosting memberi kesempatan untuk trial selama 1 bulan, atau minimal, mereka memiliki opsi pembayaran bulanan. Manfaatkan itu.

..still on progress..

Cara Paling Aman Membeli Domain

Saat ini banyak registrar baru yang nyaris semuanya menawarkan harga murah dengan label ‘promo’. Don’t get lured. Periksa dulu reputasi dan kredibilitasnya.

Jangan Tergiur Harga Murah

Jangan pernah tergiur harga murah saat membeli domain. Resikonya bisa besar sekali.

Ilustrasinya begini: Bila pihak penyedia hosting mendadak hilang, kita masih bisa meminimalisir resiko dan menyelamatkan data dengan disiplin backup secara rutin, dan melakukan restore menggunakan data backup terakhir yang kita miliki. Namun, bila situasi yang sama terjadi di pihak tempat kita membeli domain, nyaris tidak ada satupun hal yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan domain yang kita miliki..

Tanpa harga promo, bila memang serius, harga normal dari tiap ekstensi domain yang populer sebenarnya cukup terjangkau kok. Jadi tidak perlu tergiur dengan harga murah dari program-program promo yang ada.

Aman Membeli Domain

Teliti sebelum membeli. Ada beberapa tips sederhana untuk memastikan bahwa kita membeli domain di tempat yang aman:

  1. Periksa status badan usahanya. Bila registrar sudah berbadan hukum yang sah, ini sudah memberikan banyak poin positif untuk bisa mulai mempercayai registrar tersebut.
  2. Cari tau rekam jejaknya. Poin positif yang dimiliki oleh registrar berbadan hukum tidak selalu berbanding lurus dengan kredibilitasnya. Pastikan tidak ada rekam jejak negatif dari registrar tersebut.
    Untuk registrar lokal, rekomendasi registrar domain yang memiliki rekam jejak yang jelas sebagian diantaranya adalah:
    • IDwebhost
    • Rumahweb
    • Natanetwork
    • IDcloudhost
    • HostinganID
    • Domainesia
    • Qwords
    • Rackh
    • Merekmu
    All are worry free.

Menjadi Reseller Domain

Khusus bagi yang memang serius, memiliki rencana jangka panjang untuk website yang dimiliki, dan (mungkin) memliki lebih dari 1 website, ada 1 tips tambahan yang sebenarnya paling aman untuk membeli domain: Mendaftar sebagai reseller domain.

Mungkin banyak yang belum tau, untuk mendaftar sebagai reseller domain tidak harus memiliki badan usaha. Semua individu bisa mendaftar secara personal. Persyaratan dan proses penyetujuannya pun cukup mudah dan cepat.

Kelebihan utama dengan mendaftar sebagai reseller domain adalah kita jadi memiliki akses dan kuasa penuh untuk semua domain yang kita miliki.

Reseller Camp dari IDwebhost dan Digital Registra dari Rumahweb adalah 2 pemain besar yang bahkan adalah 2 verified registrar pertama PANDI. IDwebhost sendiri adalah registrar pertama di Indonesia yang terakreditasi ICANN.

Jangan khawatir dengan harga. Tier terendah dari masing-masing registrar di atas sangat terjangkau. Rp. 1.000.000,- untuk Reseller Camp, dan Rp. 2.000.000,- untuk Digital Registra.

Penjelasan detail tentang menjadi Reseller Domain di Reseller Camp dan Digital Registra akan kami ulas khusus di artikel yang terpisah.

..still on progress..

Marketing, Dulu dan Kini

The first thing that Aditya, 23, does when he wakes up at 7 in the morning is check the messaging app on his smartphone. That is also the last thing that Aditya, a postgraduate student living with his parents and younger brother in one of India’s big cities, does before he goes to bed 18 hours later.

In between, Aditya (we’ve changed his name) is never far from his smartphone. He uses it to listen to music on his way to his university classes, to look for deals on e-commerce sites, and to Skype with a friend who is studying abroad. Dinner table discussions of where to go on a holiday or what television to buy are usually in- formed by something that Aditya is looking at in real time on his phone.

India, China, Brazil, and other emerging markets are home to a lot of people who, like Aditya, rely on the internet either to make or guide their purchases. As of 2017, upward of 2.1 billion internet users lived in emerging markets. By 2022, that num- ber will likely swell to around 3 billion, and three times as many internet users will live in emerging markets as in developed markets.

In terms of growth, emerging-market digital consumers represent an enormous opportunity. Even when such consumers don’t buy directly on the internet, information that they find online—typically on a smartphone—often influences their pur- chasing decisions. Four years from now, the total value of digitally influenced spending in emerging markets will approach $4 trillion, according to our estimate.

Digital Consumers, Emerging Markets, and the $4 Trillion Future (2018) – Boston Consulting Groups

Cerita di atas adalah ilustrasi kehidupan mayoritas generasi produktif saat ini. Sudah sangat berubah dari pola yang ada di 10 tahun yang lalu.

Mari kita flashback, marketing outlook di Indonesia pada masa itu.

Marketing Outlook di Awal Dekade 2000

Awal tahun 2000an adalah tahun-tahun pijakan dari perubahan yang terjadi saat ini. Pada awal dekade 2000, pendekatan pemasaran yang bersifat top-down sudah mulai berubah ke era pemasaran horisontal.

Keyword yang menjadi filosofi para pebisnis dan pemasar pada masa itu adalah low budget, high impact. Semua yang aktif di dunia bisnis dan pemasaran di awal dekade 2000 pasti mengingat filosofi yang hampir selalu menjadi headline di media-media bisnis dan pemasaran pada masa ini.

Pemicunya adalah krisis ekonomi yang terjadi di tahun 1998. Indonesia yang saat itu sempat berada di titik terendah, perlu berjuang keras untuk bisa kembali mencari dan membangun equilibrium baru.

Anggaran pemasaran di hampir seluruh perusahaan, nyaris tidak ada bedanya dengan daya beli masyarakat yang sangat rendah di masa itu.

Periode tersebut memaksa para pebisnis dan pemasar di Indonesia untuk menggunakan filosofi low budget, high impact ini sebagai dasar mind-set dari segala aktivitas pemasarannya. Internet yang mulai berkembang penggunaannya pada periode tersebut menjadi enabler atas prinsip ini.

Pada masa ini, mayoritas awareness untuk produk dan merek masih lebih banyak didapatkan dari aktivitas offline yang dilakukan oleh para pemilik produk atau merek. Pola persebaran informasi dari mulut ke mulut (Word of Mouth) pun masih sangat terbatas penyebarannya.

Era ini memang merupakan era booming-nya Word of Mouth Marketing (WoMM). Dan salah satu turunan dari WoMM, Community Marketing, menjadi primadona.

Komunitas menjadi tujuan dari semua pebisnis dan pemasar, baik itu komunitas yang ia buat sendiri, maupun komunitas yang sudah existing. Djarum Black Community adalah salah satu yang menikmati masa jayanya pada era ini.

Marketing Outlook di Pertengahan Dekade 2000

Mulai sejak sekitar pertengahan dekade 2000, para pemilik merek mulai memiliki kesempatan untuk menjangkau pasar dan komunitas yang lebih luas berkat internet yang semakin berkembang. Forum-forum online yang mulai marak (ode to Kaskus!), menjadi target dari para pemasar untuk melakukan penetrasi produk atau mereknya.

Era ini memang eranya forum online. Selain Kaskus, banyak forum lain yang bermunculan dan memiliki massa yang cukup besar juga. Bahkan banyak media-media nasional seperti Kompas dan Detik yang juga membuat forum online serta menyediakan blogging platform di websitenya. Semua demi menjaring dan utilizing comunnity.

Weddingku adalah salah satu yang tampil cantik menjangkau komunitas di masa itu dengan membuat komunitasnya sendiri melalui online forum di websitenya.

Marketing Outlook di Akhir Dekade 2000 dan Awal Dekade 2010

Akhir dekade 2000 dan awal dekade 2010 adalah fase yang sangat menarik bagi perkembangan dunia bisnis dan pemasaran di Indonesia.

Online Social Media yang mulai berkembang dan masif digunakan di akhir dekade 2000an menjadi angin segar, terutama bagi para UKM dan startup di masa ini, sekaligus menjadi game changer di dunia bisnis dan pemasaran.

Kreatifitas dari para pemasar berpadu dengan excitements dari para audiens masing-masing merek dalam menyambut era dan ‘pola baru’ yang diberikan oleh kemajuan perkembangan internet, media sosial, dan mobile cellular.

Dengan semakin horisontalnya arus komunikasi, amplifier informasi tidak lagi didominasi oleh TV/Radio Commercial dan printed Ad di media-media nasional maupun lokal.

Facebook dan Twitter menjadi medium utama untuk melakukan campaign. Instagram yang penggunaannya masih terbatas pada Iphone dan Ipad masih belum memiliki massa yang besar saat itu.

Surfer Girl dari Bali adalah salah satu yang layak dipuji dalam cara pemanfaatan Facebook sebagai medium brand campaign-nya. Surfer Girl sudah membuat visual story telling campaign (sering juga berupa comic strip) di akun Facebooknya, bahkan sejak sebelum Facebook meluncurkan Facebook Page.

Walau sempat tampak ‘gagap’ atas perubahan yang terjadi, merek-merek besar mayoritas banyak yang sanggup beradaptasi dengan situasi ini.

Pocari Sweat adalah salah satu pelopor dari jajaran merek besar di Indonesia yang melakukan social media campaign dengan cantik melalui akun twitternya; @pokariID.

Era inilah yang mulai membuat booming istilah, yang sebenarnya salah kaprah bila ditilik secara serius dari definisi sebenarnya; Buzzer.

Muncul individu-individu yang menjadi ‘celebrity‘ baru dalam media sosial yang menjadi target kerjasama para pemasar untuk mempromosikan produk dan mereknya. Komunikasi pemasaran berubah seketika menjadi sangat horisontal, peer-to-peer, many-to-many, dan bahkan bottom-up.

Kemajuan Internet memang membuat segalanya menjadi sangat interaktif dan dinamis. Semua orang menjadi lebih mudah mengekspresikan diri, melakukan networking, membentuk komunitas, berkolaborasi, dan berpartisipasi dalam sebuah kegiatan yang bahkan mungkin hanya dilakukan secara online.

Semua jadi memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi publisher. Dan yang terpenting, semua jadi punya kesempatan yang nyaris equal untuk berjualan.

Semua aktivitas marketing langsung berubah. Nyaris semua pebisnis dan pemasar fokus atau memberikan porsi besar pada online marketing activity.

Platform e-Commerce banyak bermunculan dan disambut gembira oleh banyak UKM pada masa ini. Transaksi penjualan online yang sebelumnya banyak dilakukan di forum-forum jual beli menjadi semakin masif dengan hadirnya Bukalapak dan Tokopedia.

Berjualan menjadi semakin lintas batas. Resiko melakukan transaksi jual-beli secara online menjadi semakin kecil, Hal ini juga membuat bisnis di kategori Courier Service memiliki market demand yang luar biasa besar.

Era ini menjadi awal ter-reduksinya peran merek dalam proses buying decisions, terutama di kelompok generasi produktif. Ragam kebutuhan yang semakin banyak, dan semakin banyaknya pilihan untuk suatu produk, membuat mayoritas individu lebih mementingkan harga yang murah untuk jenis produk yang umum.

Instagram yang mulai membuka diri untuk publik yang lebih luas merilis versi Android App-nya pada bulan April tahun 2012, seiring dengan diakuisisinya Instagram oleh Facebook (9 April 2012), dan langsung diunduh lebih dari satu juta kali dalam waktu kurang dari satu hari, turut memberikan tatanan baru bagi pebisnis dan pemasar dalam memasarkan produk atau mereknya.

Walaupun sempat tidak terlalu disukai karena banyaknya spammy hashtag, meningkatnya trend untuk visual content membuat Instagram berhasil menjadi saluran promosi baru, baik itu melalui platform iklan resmi dari Instagram, maupun dengan memanfaatkan ‘Instagram Celebrity‘ sebagai saluran promosinya.

Facebook Ads, Instagram Ads, Youtube Ads, Google Ads, dan Influencer Marketing menjadi andalan utama para pemasar dan pebisnis di era ini.

..still on progress..

Going Digital

Disrupsi sudah menjadi buzz-word yang sangat populer beberapa tahun terakhir ini. Hampir semua ‘pakar’ menggunakan teori disrupsi untuk menjelaskan fenomena-fenomena perubahan yang terjadi saat ini.

Era digital memang sudah menciptakan pola-pola kerja baru hingga model bisnis yang mungkin belum pernah kita bayangkan sebelumnya. Landscape industri saat ini benar-benar sudah berubah dibandingkan 10 tahun yang lalu.

Efisiensi menjadi keyword yang mendasari semua aktivitas bisnis, dari hulu hingga ke hilir. Kuncinya adalah menjadi adaptif.

Revolusi Digital di sektor bisnis dan industri didorong oleh empat jenis teknologi yang menjadi change drivers, dan telah melaju dengan cepat dalam beberapa tahun terakhir ini. Dampaknya sangat signifikan terhadap perubahan ekonomi global.

  • Mobile Internet:
    Berkembangnya teknologi perangkat mobile cellular semakin menarik minat banyak orang untuk memiliki dan menggunakannya secara intensif. Dengan semakin banyaknya produsen yang menjual lini produk smartphone dengan harga terjangkau, dan koneksi internet yang semakin murah, membuat pengguna mobile cellular semakin banyak.
    Mobile cellular saat ini telah mengambil alih fungsi perangkat internet di rumah sebagai gateway utama yang digunakan semua orang untuk mengakses Internet. Di seluruh dunia, 60 persen dari semua lalu lintas online saat ini berasal dari perangkat mobile.
  • Cloud Technology:
    Koneksi Internet yang lebih murah dan lebih cepat serta semakin mumpuninya daya komputasi perangkat IT telah memungkinkan lebih banyak data yang diakses dari jarak jauh. Pada tahun 2014, untuk pertama kalinya di Indonesia, lebih banyak beban kerja informasi yang diproses melalui cloud dibandingkan di ruang IT tradisional.
  • Internet of Things (IoT):
    Pengertian Internet of Things kurang lebih adalah suatu konsep dimana objek tertentu memiliki kemampuan untuk mentransfer data lewat jaringan tanpa memerlukan adanya interaksi dari manusia ke manusia ataupun dari manusia ke perangkat komputer (sumber). Konsep ini pada dasarnya bertujuan untuk memperluas manfaat dari konektivitas internet yang tersambung secara terus-menerus; seperti berbagi data, remote control, dan lain sebagainya.
    Pada 2015, ada 18,2 miliar perangkat digital yang terkoneksi dengan internet. Pada tahun 2020, jumlah ini diperkirakan akan meningkat tiga kali lipat, menjadi 50 miliar. Koneksi Internet yang lebih cepat dan handal memacu lebih banyak perangkat yang terkoneksi dan dikendalikan dari jarak jauh. Menciptakan beragam model bisnis dan pola kerja yang baru.
  • Big Data dan Advanced Analytics:
    Di tahun 2016, lalu lintas Internet tercatat mencapai 1 zetabyte. Ini setara dengan 1 triliun gigabytes.
    Dengan kemampuan komputasi dan analitis yang canggih, teknologi sudah meningkatkan kemampuan pengambilan keputusan manusia. Dari sisi bisnis dan industri, ini membuat para pebisnis dan profesional mengoptimalkan rantai pasokan dan proses bisnisnya, di berbagai macam bidang.

Di Indonesia sendiri, perkembangan internet dan perangkat digital sudah merubah banyak tatanan industri dan pola hidup

Dari data yang diambil dari survey WeAreSocial ini, dengan total populasi sekitar 268 juta, pengguna internet yang aktif tercatat sebanyak 150 juta. Ini sudah lebih dari separuh total populasi. Angka yang mengagumkan mengingat kondisi geografis dan angka pembangunan yang belum merata di negeri ini.

Yang perlu dicatat, jumlah total pengguna internet dengan jumlah pengguna social media sama banyaknya (150 juta), dan lebih dari 80% yang mengaksesnya secara aktif menggunakan perangkat mobile mereka.

..still on progress..

Living the Digital Life, Today

Indonesians are very digitally savvy. They are netizens in every sense of the word, with a need for constant connectivity, instant information, and a growing appetite for digital content.

McKinsey&Company Indonesia – Unlocking Indonesias Digital Opportunity (2016)

Hal pertama yang dilakukan oleh Arum, 24, saat ia baru terbangun dari tidurnya adalah memerika pesan dalam smartphone-nya. Bila tidak ada yang penting, ia menyempatkan untuk memeriksa berbagai akun media sosial, untuk mencari tau apa saja yang baru, baik tentang berita nasional, maupun sekedar update dari circle-friends yang dimilikinya.

Sebelum berangkat ke ke kuliah magisternya, Arum memastikan baik smartphone, tablet, dan juga laptop yang dimilikinya sudah masuk di tas. Tak lupa, ia memastikan powerbank juga sudah terbawa untuk memastikan konektivitasnya selama satu hari nanti.

Seharian, semua perangkat digital yang dimilikinya dipakai bergantian. Tablet untuk presentasi, Laptop untuk mengerjakan tugas-tugas, dan smartphone yang selalu ia periksa setiap waktu.

Saat sudah pulang ke rumah, malam sebelum tidur, tak lupa Arum melakukan hal yang sama seperti saat ia baru bangun di pagi harinya; memeriksa pesan di smartphone-nya.


Cerita di atas adalah ilustrasi kehidupan sehari-hari hampir semua orang saat ini. Nyaris relevan dengan fakta dalam kehidupan kita sehari-hari, bukan?

“Faster than anyone really expected, we have become fully immersed in a digital lifestyle. We would sooner leave our homes without our wallets than without our cell phones.”

Chris Shipley

Di tahun 2004, Chris Shipley menuliskan kalimat tersebut dalam artikel opininya yang dimuat di Network World. Judulnya: “Living the Digital Life, Today“.

Apa yang dikatakan oleh Chris Shipley 15 tahun yang lalu itu benar-benar terjadi saat ini. Tidak bisa dipungkiri, banyak dari kita yang kini lebih bisa pergi keluar rumah dengan nyaman tanpa membawa dompet daripada keluar rumah tanpa membawa telepon genggam.


Tulisan ini dibuat di penghujung tahun 2019, saat di mana nyaris semua manusia sudah sangat bergantung pada teknologi digital.

Telepon genggam yang dulunya sudah cukup membuat generasi 90’an bahagia dengan adanya teknologi sms dan kebisaan mengubah ringtone, kini sudah menjadi pusat dari aktivitas hidup hampir semua orang.

Bersanding dengan PC/Laptop dan Tablet, ketiganya adalah alat utama untuk menunjang aktivitas dan produktivitas sehari-hari.

Kemajuan teknologi digital memang sudah mempengaruhi banyak aspek kehidupan. Internet adalah katalis percepatan perubahan ini.

Banyak hal baik yang dibawa oleh kedua teknologi tersebut. Era digital, yang sering dianggap sebagai Revolusi Industri ke-empat, memang sudah mengubah setiap segi kehidupan sehari-hari. Dari mulai cara kita berkomunikasi, hingga cara kita mengambil keputusan.

Di sisi industri/bisnis, era digital ini sudah menciptakan pola-pola kerja baru hingga model bisnis yang mungkin belum pernah kita bayangkan sebelumnya. Disrupsi, sudah menjadi buzz-word yang sangat populer beberapa tahun terakhir ini.

Bukannya tanpa cela. Kemajuan yang terjadi di era digital juga turut memberi dampak negatif terhadap perilaku banyak orang.

Sifat serba cepat dan instant, membuat banyak orang tidak lagi terbiasa menunggu.

Kemudahan-kemudahan yang diberikan, juga membuat banyak dari kita yang lebih suka ‘melompat’, tanpa memberikan porsi lebih pada proses dan mempelajari dasar serta tahapan atas sesuatu hal.

Sejarah selalu menunjukkan bahwa mayoritas manusia tidak selalu bisa beradaptasi dengan baik dengan perubahan-perubahan yang ada. Terutama yang sifatnya terjadi dengan saat cepat. Era digital adalah salah satunya.

Kita memang sering ‘kalah’ menyikapi perubahan. Ketidakmampuan kita untuk menghentikan persebaran hoax, bahkan untuk sekedar memfilter arus informasi yang begitu deras, adalah contoh nyata dari ketidak-siapan kita menghadapi perubahan yang terjadi.

Banyak dari kita yang mengklaim diri sebagai digital savy, tapi hanya menggunakan koneksi internetnya untuk kebutuhan social recognition saja, dan bahkan tidak mengenal fungsi quote dalam kolom pencarian google.


Terlepas dari hal-hal negatif yang dimilikinya, melalui artikel pertama dalam website ini, ThinkDigital mengajak Anda untuk merangkul perubahan-perubahan yang terjadi berkat perkembangan kemajuan yang ada dalam teknologi digital.

Akan ada banyak pembahasan di sini. Mulai dari Digital Life, hingga Digital Business dan Digital Marketing yang saat ini sangat mendominasi berbagai aspek dalam kehidupan kita sehari-hari.

Agar kita, bersama-sama, bisa mengambil manfaat terbaik dari era yang serba mudah dan cepat ini.

Enjoy!