Going Digital

by

Disrupsi sudah menjadi buzz-word yang sangat populer beberapa tahun terakhir ini. Hampir semua ‘pakar’ menggunakan teori disrupsi untuk menjelaskan fenomena-fenomena perubahan yang terjadi saat ini.

Era digital memang sudah menciptakan pola-pola kerja baru hingga model bisnis yang mungkin belum pernah kita bayangkan sebelumnya. Landscape industri saat ini benar-benar sudah berubah dibandingkan 10 tahun yang lalu.

Efisiensi menjadi keyword yang mendasari semua aktivitas bisnis, dari hulu hingga ke hilir. Kuncinya adalah menjadi adaptif.

Revolusi Digital di sektor bisnis dan industri didorong oleh empat jenis teknologi yang menjadi change drivers, dan telah melaju dengan cepat dalam beberapa tahun terakhir ini. Dampaknya sangat signifikan terhadap perubahan ekonomi global.

  • Mobile Internet:
    Berkembangnya teknologi perangkat mobile cellular semakin menarik minat banyak orang untuk memiliki dan menggunakannya secara intensif. Dengan semakin banyaknya produsen yang menjual lini produk smartphone dengan harga terjangkau, dan koneksi internet yang semakin murah, membuat pengguna mobile cellular semakin banyak.
    Mobile cellular saat ini telah mengambil alih fungsi perangkat internet di rumah sebagai gateway utama yang digunakan semua orang untuk mengakses Internet. Di seluruh dunia, 60 persen dari semua lalu lintas online saat ini berasal dari perangkat mobile.
  • Cloud Technology:
    Koneksi Internet yang lebih murah dan lebih cepat serta semakin mumpuninya daya komputasi perangkat IT telah memungkinkan lebih banyak data yang diakses dari jarak jauh. Pada tahun 2014, untuk pertama kalinya di Indonesia, lebih banyak beban kerja informasi yang diproses melalui cloud dibandingkan di ruang IT tradisional.
  • Internet of Things (IoT):
    Pengertian Internet of Things kurang lebih adalah suatu konsep dimana objek tertentu memiliki kemampuan untuk mentransfer data lewat jaringan tanpa memerlukan adanya interaksi dari manusia ke manusia ataupun dari manusia ke perangkat komputer (sumber). Konsep ini pada dasarnya bertujuan untuk memperluas manfaat dari konektivitas internet yang tersambung secara terus-menerus; seperti berbagi data, remote control, dan lain sebagainya.
    Pada 2015, ada 18,2 miliar perangkat digital yang terkoneksi dengan internet. Pada tahun 2020, jumlah ini diperkirakan akan meningkat tiga kali lipat, menjadi 50 miliar. Koneksi Internet yang lebih cepat dan handal memacu lebih banyak perangkat yang terkoneksi dan dikendalikan dari jarak jauh. Menciptakan beragam model bisnis dan pola kerja yang baru.
  • Big Data dan Advanced Analytics:
    Di tahun 2016, lalu lintas Internet tercatat mencapai 1 zetabyte. Ini setara dengan 1 triliun gigabytes.
    Dengan kemampuan komputasi dan analitis yang canggih, teknologi sudah meningkatkan kemampuan pengambilan keputusan manusia. Dari sisi bisnis dan industri, ini membuat para pebisnis dan profesional mengoptimalkan rantai pasokan dan proses bisnisnya, di berbagai macam bidang.

Di Indonesia sendiri, perkembangan internet dan perangkat digital sudah merubah banyak tatanan industri dan pola hidup

Dari data yang diambil dari survey WeAreSocial ini, dengan total populasi sekitar 268 juta, pengguna internet yang aktif tercatat sebanyak 150 juta. Ini sudah lebih dari separuh total populasi. Angka yang mengagumkan mengingat kondisi geografis dan angka pembangunan yang belum merata di negeri ini.

Yang perlu dicatat, jumlah total pengguna internet dengan jumlah pengguna social media sama banyaknya (150 juta), dan lebih dari 80% yang mengaksesnya secara aktif menggunakan perangkat mobile mereka.

..still on progress..

Leave a Comment